Minggu, 02 November 2014

MENYIBAK SEJARAH, KEHIDUPAN SOSIAL, DAN BUDAYA DUSUN NGERONG

Kupandang tegak tiga sudut bukit yang memagari dusun itu. Badan ini berputar mengikuti rotasi kaki, seolah tak ingin tertinggal dengan arah sorotan mata. Siang itu bakda jum’at, sekitar pukul 13.00 WIB, kutelusuri anak tangga menuju bukit di sebelah barat daya dusun yang terbelah oleh jalan raya sarangan itu.  
Tangga yang terbuat dari batu hanya mengantar saya sampai sebuah rumah tua milik pribadi, yang memang jalan ini dikhususkan menuju rumah yang begitu asri tersebut. Di depan rumah itu, arah ke kiri,  terdapat sebuah jalan setapak yang lumayan menanjak. Dari bawah terlihat bekas-bekas bangunan cina yang sekilas tampak seperti tembok dan fondasi pada umumnya.
Hati sudah tak sabar untuk sampai di lokasi yang hampir musnah itu. Langkah ini terhenti melangkah ketika melihat sebuah relief yang mirip gigi harimau yang begitu tampak jelas dari bawah. Akan  tetapi, ada juga masyarakat yang menyebut relief tersebut adalah relief gigi naga.  Kebenarannya pun masih menjadi tanda tanya bagi masyarakat sekitar.
Rasa penasaran ini semakin mencuat dan begitu tertarik untuk melihat kejutan-kejutan dari bangunan tua itu. Akan tetapi, setelah tiba tepat di atas relief, saya hanya menemukan perladangan dengan fondasi bangunan zaman dahulu. Dulunya bangunan ini adalah bekas bangunan cina. Akan tetapi, masih abu-abu tentang fungsi dari bangunan tersebut. Setelah ditelusur lebih mendalam, bukti bahwa bangunan ini dulunya bekas bangunan cina adalah ornamen-ornamen yang identik dengan ornamen cina yang terpahat di dinding bangunan.
Eksplorasi di bukit pertama telah selesai. Kuluruskan pandangan menuju timur jauh. Terlihat bukit kedua yang terletak di sebelah timur dusun. Masyarakat sekitar menjuluki bukit ini dengan Punthuk Genengan. Jalan menuju puncak bukit sangatlah menanjak dan hanya terbuat dari tanah yang dibentuk menyerupai tangga.
Di setengah perjalanan menuju puncak, terdapat sebuah batu berukuran ± 1 x 0.5 meter dengan permukaan rata. Disinyalir tempat ini merupakan tempat bertapa dan bersemayamnya mbah Suwondo. Siapa dan darimana beliau berasal masih menjadi teka-teki. Menurut cerita sesepuh dusun, mbah suwondo ini adalah seorang adipati dari keraton maospati.  “ceritanya seperti ini le, mbah Suwondo itu adalah seorang adipati keraton maospati. Nah, punthuk genengan ini hubungannya dengan bengkahan yang letaknya di plaosan itu,” papar mbah Sarkum, yang merupakan sesepuh dusun. Perlu diketahui bahwa Bengkahan yang dimaksud adalah sebuah bangunan tua yang berada di plaosan. Tepatnya di depan pasar plaosan yang letaknya di ketinggian.
Nafas ini mulai lega saat sampai di puncak bukit Genengan. Puncak bukit ini tidaklah seberapa luasnya. Sebab, ketika menengok ke sebelah timur puncak, areanya semakin menurun. Sehingga bentuk dari bukit ini seperti cikrak (tempat untuk mengeruk sampah atau tanah yang terbuat dari bambu). Bentuknya seperti kerucut yang mengerucutnya tidak di tengah melainkan di samping. Beredar cerita bahwa dahulu bukit ini adalah hasil kerukan dari telaga wahyu atau orang biasa menyebutnya telaga wurung. Sehingga bentuknya seperti cikrak terbalik.
Di sebelah timur puncak, terdapat bangunan peninggalan Belanda yang sangat luas. Terbukti dengan adanya fondasi-fondasi yang mulai hilang karena adanya aktivitas perladangan. Meskipun telah menjadi lahan pertanian, sketsa dari area bangunan tersebut masih kentara. Di depan bangunan terdapat lahan perladangan yang agak menurun dan jika diteruskan akan menuju ke sebuah jalan besar di atas bukit ini. Jalan ini akan berbelok turun menjadi lahan perladangan kembali. Dahulu, ladang yang sejalur dengan jalan besar ini adalah satu kesatuan membentuk sebuah jalan besar menuju bangunan di atas bukit. Jalan ini dapat dilewati oleh truk dan kendaraan besar lainnya. Jika ditelusur menurun, jalan ini akan mengarah ke jalan Raya Sarangan.
Matahari semakin condong ke barat. Perjalanan dilanjutkan ke arah matahari terbenam. Ya, disebelah barat dusun terdapat dataran tinggi yang berperan penting bagi dusun-dusun di sekitarnya. Sebab, dari sinilah sumber air yang dikonsumsi sehari-hari berasal. Terdapat juga sebuah air terjun yang bernama Grojogan Mendhi. Air terjun ini sempat diulas dalam sebuah koran tentang potensinya yang memang belum banyak diketahui. Akses ke lokasi memang membutuhkan kewaspadaan yang ekstra. Mengingat rutenya yang berada di tebing yang cukup curam. Sangat disayangkan, air terjun ini dari waktu ke waktu semakin mengering dan berubah topografinya.
Di bagian atas dataran tinggi ini, terdapat sebuah bangunan zaman dahulu yang bernama omah pendhem. Sejarah dari omah pendhem itu sendiri adalah ketika para tentara siliwangi di beri perintah untuk meninggalkan Jawa Barat ke daerah-daerah lain, termasuk Jawa Tengah. Mereka akhirnya sampai di perbatasan gunung lawu dan menjadikan omah pendhem ini menjadi salah satu markas persinggahan. Ketika  datang di wilayah jawa timur paling barat ini,   tentara siliwangi langsung dihadapkan dengan pemberontakan PKI yang di pimpin oleh Paul Mussotte atau lebih dikenal sebagai Muso. Memang suasana daerah Madiun dan sekitarnya saat itu dalam keadaan genting. Dengan datangnya tentara siliwangi sangat berandil besar dalam memberantas PKI, khususnya dari arah Barat. Mereka bisa dibilang sukses dalam memukul mundur pasukan PKI bersama pasukan Divisi II yang dipimpin oleh kol. Gatot Subroto. 

Model bangunan omah pendhem ini bentuknya menyerupai kamar yang berjumlah 4 ruangan. Di dalamnya ada seperti tempat duduk yang menghadap ke jendela dan pintu masuk. Di luar bangunan, tepat di depan kamar-kamar ini terdapat tangga yang dibangun di atas batu besar menghadap ke arah timur. Terdapat sebuah pintu masuk dari atas yang hanya menjurus ke satu ruangan yaitu ruang ke-3 dari selatan. Alasan mengapa pintu masuk ini hanya menjurus ke satu ruangan masih belum ada kejelasan.
Langitpun mulai meredup. Saya mengakhiri perjalanan saya dalam mengubek-ubek destinasi bersejarah di sekitar dusun. Kenampakan dusun dari sisi barat memang lebih indah dari kenampakan yang diambil dari bukit-bukit sebelumnya.
Dusun yang dimaksud adalah Dusun Ngerong. Dusun yang menjadi pusat pergerakan saya dalam menelusuri ketiga bukit tadi.

DUSUN NGERONG
Dusun ngerong terletak di sebelah barat kecamatan plaosan. Dusun yang terbelah oleh jalan terletak di jalan utama pariwisata. Arah ke sebelah barat menuju telaga wahyu, telaga sarangan, air terjun mojosemi, jalan tembus, dan masih banyak lagi. Arah ke sebelah selatan menuju air terjun pundhak kiwo, air terjun watu ondo, dll.


SEJARAH TERBENTUKNYA DUSUN NGERONG
Pada zaman dahulu datanglah seorang pujangga keraton solo yang bernama Ronggo Warsito. Nama aslinya adalah Bagus Burhan. Putra dari Mas Pajangswara (juga disebut Mas Ngabehi Ranggawarsita). Ayahnya adalah cucu dari Yasadipura II, pujangga utama kasunanan Surakarta. Ayah Bagus Burhan merupakan keturunan kasultanan Pajang, sedangkan Ibunya adalah keturunan dari Kasultanan Demak.

Dia datang ke Dusun Ngerong untuk bertapa di sebuah “Rong” (lubang) dan untuk mengingat pertapaaannya tersebut, dia membabat hutan dan menamakan wilayah tersebut dengan nama “Ngerong”. Lubang tempat pertapaan tersebut, saat ini telah menjadi rumah warga , tepatnya pada kamar  tengah rumah tersebut. 

PERISTIWA PENTING YANG TERJADI
Peristiwa penting yang terjadi di dusun ngerong adalah peristiwa PKI ’48. Selain itu ada satu peristiwa kerusuhan yang juga menjadi memori sejarah, tetapi karena peristiwa ini memiliki sensitivitas yang tinggi maka saya hanya akan mengulas peristiwa PKI yang terjadi di Dusun Ngerong saja.
Peristiwa PKI memang sudah banyak yang mengetahuinya dan banyak terjadi di daerah sekitar madiun, termasuk di dusun ngerong. Telah dijelaskan di awal bahwa tentara siliwangi telah berhasil menumpas para antek-antek PKI dengan pengorbanan yang luar biasa. Begitu pula dengan pengorbanan masyarakat dusun, yang tidak kalah heroiknya dengan pengorbanan para abdi negara tersebut. Banyak penduduk yang harus menjadi tawanan, disiksa bahkan dibunuh dengan cara yang tidak manusiawi. Harta mereka dirampas, ternak mereka digiring paksa, mereka ketakutan dan menghabiskan waktunya dalam persembunyian.
Saat saya bertanya tentang kronologi kejadian keganasan PKI kepada simbah saya dan orang-orang sepuh di dusun ngerong, mereka sangat antusias untuk menceritakannya. Seraya membongkar ingatan, mereka perlahan menceritakan peristiwa memilukan itu. “Dulu semuanya sembunyi di ombongan. Jadi di bawah tanah, terus atasnya di kasih palang bambu dan ditutupi gedhek. Ruangan seperti ini terdapat di belakang rumah pak Wagino. Satu lagi di utara jalan di belakang rumah pak warsi. Ada juga yang bersembunyi di dusun gemutri (dusun yang letaknya di sebelah utara atas dusun ngerong)”, jelas mbah Samidi yang memang lebih sepuh dari yang lain.
Melihat tingkah polah PKI yang membuat hati berang, Partai Nasional Indonesia (PNI) tidak tinggal diam. Mereka menculik orang-orang yang di rumahnya ada simbol PKI yaitu arit dan  palu. Sebuah kilas balik yang membuat diri ini merinding dan semakin menghargai perjuangan orang-orang yang hidup pada masa lampau.

KEHIDUPAN SOSIAL  
Kondisi sosial masyarakat ngerong dahulu dan sekarang sudah semakin berpaling arah. Banyak perubahan yang terjadi seiring perkembangan zaman dan teknologi. Berikut beberapa perbedaan menurut cerita beberapa warga dan penyelidikan pribadi :
  • Menonton TV di terminal
Pada zaman dahulu, TV termasuk barang mewah bagi warga. Sedangkan mereka juga membutuhkan hiburan untuk melepas penat setelah seharian bekerja. Maka untuk mengatasi permasalahan tersebut direncanakan sebuah pemasangan TV di balai desa. TV yang ada pun masih hitam putih. Akan tetapi, karena suatu hal, TV tersebut di pindahkan ke terminal Ngerong. Setiap pukul 17.00 WIB, warga berduyun-duyun menuju terminal ngeronguntuk menonton TV bersama. TV akan dimatikan pada pukul 00.00 WIB. Sekarang di setiap rumah warga sudah memiliki TV masing-masing. Bahkan ada yang memiliki lebih dari satu dalam satu rumah.
  • Suasana pagi
Suasana pagi dusun ngerong pada zaman dahulu berbeda dengan sekarang. Dahulu, suasana ramai sudah tercipta bahkan sebelum matahari terbit sekalipun. Banyak para petani dan pedagang yang bertransaksi jual-beli hasil bumi, para kuli panggul menurunkan dan menaikkan barang dari dan ke pick-up, para penjual makanan menyiapkan sajiannya, dan banyak yang berjalan menuju pasar plaosan untuk menjual hasil buminya, dsb. Pada saat bulan Ramadhan, orang-orang biasa berkumpul di warung untuk membeli makanan dan makan sahur bersama. Tradisi tersebut kini telah menghilang, warga lebih nyaman sahur di rumah bersama keluarga. Selain itu penjual makanan pada saat sahur sudah tidak ada lagi. Hal yang masih dilakukan sampai saat ini di pagi hari bulan puasa tepatnya setelah sahur adalah bermain becak lawu  (gledhekan) dan lakeran (sebuah kendaraan yang dibuat dari kayu berroda laker sepeda)
  • Hobi dengan Becak Lawu modifikasi
Dusun ngerong terkenal dengan adanya becak lawu modifikasi. Kendaraan ini memang biasa digunakan warga untuk mengangkut rumput pakan ternak, kayu, hasil tani, dll. Kendaraan tradisional ini juga masih digunakan di desa-desa sekitar. Akan tetapi, di dusun ngerong, kendaraan ini disulap menjadi kendaraan bebas bahan bakar yang cukup unik. Dengan modifikasi di bentuk becak lawu itu sendiri dan penambahan perangkat-perangkat pendukung seperti lampu hias, tape music, dll tak ayal kendaraan ini dapat menyita perhatian publik.
Hobi ini sempat booming sekitar tahun 2006-2009. Bahkan warga membentuk perkumpulan Ngerong Cart Lawu Club (NCLC). Hampir seluruh warga berpartisipasi dalam perkumpulan ini. Setiap malam minggu, warga mengadakan parade becak lawu dari Dusun Ngerong sampai ke perempatan Selosari Magetan. Parade ini menjadi perhatian warga di sepanjang jalan yang dilewati. Warga berkerumun di sepanjang jalan untuk melihat tontonan gratis ini bahkan menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu. Di sepanjang jalan Raya Sarangan dihiasi dengan kelap-kelip lampu becak lawu yang melintas.
Becak lawu ini seringkali menyedot perhatian media. Banyak media baik dari media cetak dan elektonik (TV Swasta Nasional) yang datang untuk meliput becak lawu ini.
  • Pasar vs ethek keliling
Pasar Ngerong yang sekarang telah mati, dulunya merupakan tempat transaksi jual beli yang sangat ramai. Banyak petani yang menyetorkan hasil buminya di sini. Beberapa pick-up keluar masuk menyetor dan mengambil sayuran. Sehingga warga tidak perlu bingung dalam berbelanja kebutuhan sayuran. Akan tetapi, jika ingin berbelanja kebutuhan dapur yang lain maka tujuan utama memang pasar Plaosan. Sedangkan, sekarang akses berbelanja semakin dipermudah dengan adanya ethek keliling yaitu orang yang menjual sayuran dan kebutuhan dapur yang lain di sebuah gerobak yang dinaikkan sepeda motor. Kemudahan ini memang telah menjamur di berbagai daerah bahkan di kota-kota di daerah perumahan.
  • Terminal Ngerong
Pada tahun 70-an sampai tahun 80-an, dusun ngerong merupakan tempat yang sangat ramai. Mengingat letak geografisnya yang strategis yaitu di jalur menuju daerah pariwisata telaga sarangan, telaga wurung, air terjun mojosemi, jalan tembus, dll. Selain itu keberadaan terminal persinggahan yang berada di dusun ngerong, semakin membuat dusun ngerong penuh dengan aktifitas pengangkutan. Dahulu bis-bis yang akan menuju daerah sarangan, diberhentikan di terminal ngerong. Selanjutnya pengunjung diangkut dengan angkot (angkutan umum) menuju daerah pariwisata sarangan. Banyak kios-kios yang didirikan di pinggir terminal. Bahkan didirikan kios-kios yang khusus menjual buah-buahan di terminal atas. Kios-kios buah tersebut masih digunakan untuk berjualan buah sampai sekarang.  

BUDAYA
Di dusun ngerong pada umumnya masih menganut adanya budaya sambatan, kerja bakti, bersih desa, bancaan (slametan/syukuran), dsb.
  • Bancaan
Yang dimaksud bancaan di sini adalah suatu bentuk rasa syukur, memohon perlindungan/keselamatan, atau agar mendapat berkah, dll. Bancaan meliputi banyak sekali macamnya antara lain bancaan orang meninggal, acara pernikahan, kelahiran, syukuran, bancaan ketika akan panen, bancaan di kuburan, bancaan di punden, dll.
  • Bersih desa
Bersih desa di dusun ngerong terbagi menjadi dua yaitu bersih desa pada bulan ruwah dan bersih desa pada bulan sura. Bersih desa pada bulan ruwah dilaksanakan di balai desa dadi (gedung baruna). Biasanya masyarakat membawa bancaan berupa nasi tumpeng kuning, dan lauk pauknya. Selain itu mereka juga membawa uang sebesar seribu rupiah sebagai kancing untuk uang kas desa. Sedangkan bersih desa pada bulan sura dilaksanakan di bekas punden yang sekarang sudah menjadi rumah warga. Prosesnya hampir sama dengan bersih desa di balai desa. Akan tetapi, pada prosesi ini diadakan penyembelihan kambing di jalan menuju desa dadi. Kemudian kepala kambing tersebut diletakkan di bekas punden dan keempat kakinya biasanya di letakkan di empat penjuru desa sebagai pagar desa agar menperoleh keselamatan dan terhindar dari serangan gaib.
  • Nyekar  
Nyekar berasal dari kata dasar “sekar” yang berarti bunga. Secara keseluruhan mempunyai arti berziarah ke makam dengan membawa bunga sebaran. Bunga tersebut disebar setelah peziarah mengucapkan do’a untuk orang yang sudah meninggal. Selain itu ada cara lain untuk menyekar apabila makam kerabat atau orang yang ingin disekar, berada di tempat lain atau tidak diketahui keberadaanya. Biasanya peziarah menebarkan bunga dan memanjatkan do’a di jalan masuk menuju makam.
  • Mantenan
 Pelaksanaan mantenan pada zaman dahulu sudah berbeda dengan sekarang. Perbedaan itu bisa dirasakan dari suasana kesakralan acara. Hal tersebut dapat ditinjau dari waktu pelaksanaan, hiburan yang dihadirkan, dll. Dahulu acara mantenan kebanyakan dilangsungkan pada malam hari. Akan tetapi, karena alasan kepraktisan maka sekarang acara mantenan dilangsungkan pada siang hari.
 Hiburan yang didatangkan oleh orang yang punya hajat juga sudah berbeda. Dahulu orang lebih memilih hiburan klenengan, gambyongan, tari, dan wayang. Tapi sekarang lebih cenderung ke orkes melayu, dangdut, campursari, dll. Hiburan tari tradisional sudah tidak lagi dijumpai di acara mantenan dusun ngerong. Klenengan, gambyongan, dan wayang juga sudah jarang ditemui. Dilihat dari segi dekorasi, dulu masih ada hiasan yang terbuat dari janur kemudian di beri hiasan bunga hidup atau buah-buahan yang ditancapkan di rangkaian janur tersebut. Sehingga ada yang dinanti-nanti setelah acara selesai yaitu saling berebut buah. Sekarang tradisi tersebut sudah menghilang.   

Demikian liputan sejarah, budaya, dan kehidupan sosial dusun Ngerong dan sekitarnya. Semoga dapat bermanfaat bagi pembaca sekalian.

Catatan Penulis :
Saat saya ingin mengetahui asal-usul desa saya dan sejarah bekas bangunan-bangunan yang ada di sekitar desa saya, saya sangat kesulitan untuk menemukannya. Ketika mencari di internetpun saya tidak menemukan referensinya. Semoga dengan adanya ulasan saya ini dapat memenuhi informasi mengenai dusun Ngerong. Saya sadar bahwa ulasan saya ini memiliki kekurangan di sana-sini, maka saya meminta maaf jika ada informasi yang kurang tepat. Tak lupa saya ucapkan terima kasih kepada semua narasumber dan orang-orang yang telah membantu saya untuk melengkapi ulasan saya ini. Sekali lagi Terima kasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar