BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Peninggalan
Kebudaayaan yang ada di Indonesia sangat banyak jumlah dan macamnya. Salah satu
dari peninggalan tersebut berbentuk candi. Candi pun juga masih dibagi menjadi
candi hindu dan candi budha. Pada dasarnya masih banyak jenis-jenis candi
lainnya. Akan tetapi, jenis yang paling sering dicantumkan adalah kedua jenis
candi tersebut.
Fungsi
utama dari candi sendiri mulai berubah seiring dengan perkembangan zaman. Candi
yang semula berfungsi sebagai tempat pemujaan atau semua hal yang berhubungan
dengan religius, sekarang fungsi tersebut seakan menjadi fungsi kedua setelah
fungsi wisata.
Kebanyakan
candi-candi yang ditemukan di Indonesia tidak diketahui nama aslinya.
Kesepakatan di dunia arkeologi adalah menamai candi itu berdasarkan nama desa
tempat ditemukannya candi tersebut. Candi-candi yang sudah diketahui masyarakat
sejak dulu, kadang kala juga disertai dengan legenda yang terkait dengannya.
Ditambah lagi dengan temuan prasasti atau mungkin disebut dalam naskah kuno
yang diduga merujuk kepada candi tersebut. Seperti halnya candi Sadon yang
berada di desa Sadon, Magetan.
Candi
Sadon atau lebih terkenal dengan candi Reog menjadi obyek penelitian kami dalam
penyusunan makalah ini. Guna menyusun makalah ini, penulis telah melakukan
penelitian di candi sadon, wawancara dengan juru kunci candi sadon, dan
pengambilan gambar bagian-bagian candi. Penyusunan dari makalah ini mengambil
sumber dari hasil wawancara, buku asli tentang candi sadon, dan untuk
melengkapi informasi dan data kami mengambil dari internet.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Mengapa
dinamakan candi sadon?
2. Bagaimana
sejarah Candi Sadon?
3. Bagian-bagian
apa saja yang ditemukan di candi sadon?
C. TUJUAN PENELITIAN
1. Mengetahui
asal mula pemberian nama candi sadon.
2. Mengetahui
sejarah tentang Candi Sadon
3. Meneliti
bagian-bagian candi yang masih ada di situs candi sadon
BAB II
PEMBAHASAN
A.
ASAL
MULA NAMA CANDI SADON (CANDI REOG)
Candi
Sadon terletak di Dukuh Sadon, Desa Cepoko, Kecamatan Panekan, Kabupaten
Magetan. Terletak sekitar 3 kilometer arah utara dari kota Magetan. Letaknya
dekat dengan pasar Cepoko.
Ada
pendapat yang berbeda tentang asal mula dari nama Candi Sadon. Pendapat
pertama, dinamakan Candi Sadon karena lokasinya terletak di dukuh Sadon.
Menurut keterangan para sesepuh dukuh Sadon, kata SADON berasal dari kata SAD (singkatan
dari ASAD, artinya tidak ada) dan kata DON
(sebagian dari kata PADUDON, artinya pertikaian).
Jadi
kata SADON merupakan singkatan dari Asading Padudon, yang memiliki arti tidak
adanya perselisihan / pertengkaran.
Pendapat kedua, menyebutkan bahwa kata SADON
berasal dari kata SYAHDU yang memiliki arti tentram. Arti tentram ini menjurus
pada ritual Religius seperti bertapa atau meditasi yang sering dilakukan
orang-orang zaman dahulu. Jadi, Candi Sadon merupakan tempat orang-orang dahulu
bertapa dan melaksanakan ritual keagamaan lainnya.
Candi
Sadon memiliki nama lain yaitu Candi Reog. Penamaan tersebut berasal dari Kala
Makara yang berjumlah dua buah. Kala makara adalah arca yang wujudnya
menyerupai reman muka raksasa (Batara Kala) yang menyeramkan, mata besar melotot,
mulut menganga dengan taring, dua tangan yang seakan menerkam, dan dua makara
menghias di kepala. Jadi, penamaan Candi Reog karena ada dua Kala Makara yang
bentuknya seperti Reog. Penduduk sekitar juga menyebut Kala Makara tersebut
dengan sebutan mbah Dhadhungawuk karena bentuknya yang ganas dan menakutkan.
Ada
juga cerita tentang penyebutan Candi Reog karena pada tahun 1948 ada seorang
tokoh kesenian reog melakukan upacara ritual di Candi Sadon untuk memohon
kelancaran pementasan reognya. Setelah itu banyak rombongan kesenian reog lain
yang melakukan upacara serupa di Candi Sadon.
B.
SEJARAH
TENTANG CANDI SADON
Candi Sadon
menjadi milik Pemerintah yang dikuasakan langsung Kepala Bidang Kepurbakalaan
di Trowulan. Juru Kunci Candi Sadon merupakan orang setempat yang digaji
langsung dari Trowulan. Beliau adalah Sarnu. TR dan juru kunci pembantu Nulyadi.
Ketika masih
utuh Candi Sadon berukuran 6x6 meter atau luas 36 m2. Ukuran area
candi yaitu lebar depan = 10, 6 meter, lebar belakang = 6,7 meter, panjang
sebelah timur = 7,0 meter, panjang sebelah selatan = 6,5 meter.
Pada tahun
1866, penyelidik Belanda bernama Hoeperman telah meneliti Candi Sadon dalam
keadaan runtuh. Kemudian pada tahun 1906, ahli sejarah dan purbakala Belanda
bernama Knebel juga meneliti dan masih melihat sisa-sisa reruntuhan berupa 7
puncak candi, 1 gapura candi, 2 buah yoni, 1 arca sapi, 2 buah Kala Makara, 1
batu bertulis berisi piagam bertahun 1018.
Pada Candi
Sadon terdapat prasasti sebanyak tiga buah yang berbunyi A-PA PA-KA-LA, SA DA
PA KRA-MA dan BA DA SRI-PA SA-BA DA-HA-LA. Dari tulisannya yang berbentuk
kwadrat atau balok, diperkirakan bahwa batu bertulis tersebut berasal dari masa
yang sama dengan prasasti yang diketemukan di Dusun Pledokan, Kediri, Jawa
Timur. Jadi, dapat diambil kesimpulan bahwa candi Sadon tersebut lebih condong
ke peninggalan zaman Erlangga. Sebab Kediri adalah sebagai kelanjutan dari
kerajaan Kahuripan yang dipimpin oleh Erlangga.
C.
BAGIAN-BAGIAN
CANDI YANG MASIH ADA
Pada
tahun 1973 diadakan pendataan dan penelitian oleh Drs. Sorcipto dan Suwardi,
Ba. Penjelasan dari pendataan dan penelitian tersebut adalah sebagai berikut :
a. Asal
candi ini adalah merupakan sebagian reruntuhan candi, dan diperkirakan
disekitar lokasi tersebut masih ada bagian-bagian area lain yang masih
terpendam.
b. Benda-benda
peninggalan yang masih terlihat dalam candi ini antara lain :
1. Kala
2. Naga
3. Batu bertulis (isi tidak jelas)
4. Tantri (potongan ceritera binatang)
5. Umpak
6. Yani
7. Antefik (bagian sudut candi)
8. Area-area kecil
c. Benda-benda
tersebut diperkirakan peninggalan Hindu pada jaman Majapahit.
Berdasarkan
pengamatan dan penelitian kami, berikut beberapa bagian candi dan benda-benda peninggalan
lain :
1. Kala
Makara
Kala
Makara adalah kepala raksasa (Bathara Kala) yang biasanya dipasang di atas
pintu masuk candi. Di Candi Sadon ini terdapat 2 buah Kala Makara yang disusun
saling membelakangi.
Bentuk
kalamakara ini merupakan salah satu wujud ornamen figuratif yang memiliki
fungsi spirutual, yaitu sebagai 'tolak balak' (pengusir roh-roh Jahat). Biasa
kita menyebutkan penolak sial atau penolak ancaman batin yang tidak tampak
secara lahiriah.
Dalam cerita Hindu dan Budha, Kala
Makara itu awalnya berupa dewa yang tampan. Ia mendapat hukuman dan kutukan
dari Sang Hyang Widi, berubah menjadi raksasa yang buas dan setiap binatang
yang dijumpainya dimakan dan diterkamnya. Dan terakhir memakan tubuhnya sendiri
dan tinggal kepalanya yang kita sebut Kala Makara itu.
2. Antefik
Antefik
adalah bagian sudut candi. Di Candi Sadon ini terdapat sekitar 6 buah Antefik. Unsur
bangunan yang berfungsi sebagai hiasan bagian luar. Sering ditemukan pada
bangunan candi dalam bentuk segitiga meruncing. Karena merupakan bagian dari
struktur maka antefiks tidak dapat dipisahkan dari bangunan itu sendiri.
3. Tantri
Tantri
adalah Potongan cerita binatang. Tantri yang berada di Candi Sadon ini bukan berupa rangkaian cerita binatang. Akan tetapi, hanya berupa gambar binatang yaitu burung.
4. Naga
Dalam
mitologi setempat, fragmen naga Candi Sadon dikenal sebagai nogotatmolo. Konon
fragmen tersebut berjumlah sepasang namun satu fragmen telah dipindahkan ke
Pendopo Kabupaten Magetan. Fragmen naga yang berada di Candi Sadon dipercaya
sebagai naga betina.
5. Batu
bertulis
Batu
tertulis ini memang belum jelas maknanya. Tulisan ini berbentuk kwadrat atau
balok. Diperkirakan berasal dari masa yang sama dengan prasasti yang diketemukan
di Dusun Pledokan, Kediri, Jawa Timur
6. Lumpang
Lumpang
ini adalah batu yang terdapat cekungan di tengahnya. Biasanya digunakan untuk menumbuk padi, kopi, atau bahan olahan lainnya. Biasanya berkaitan dengan Alu yaitu alat untuk menumbuknya.
7. Kolog
Kolog
ini berbentuk seperti mahkota raja/prajurit zaman dahulu atau pelindung kepala orang zaman dahulu. Belum tahu tentang fungsi dan makna dari batu andesit yang berbentuk kolog ini.
Selain
itu, berikut foto Arca Nandi dan benda peninggalan lainnya. Penjelasan
1. Arca
Nandi
Arca
ini berbentuk sapi atau lembu. Tepat di depan arca ini terdapat sebuah tempat
dupa untuk prosesi bersih desa atau prosesi lainnya. Arca Nandi ini juga sering
digunakan untuk pameran oleh Pemerintah Magetan.
2. Arca
berbentuk seperti rumah
Arca ini berbentuk
seperti rumah. Akan tetapi, menurut penjelasan dari juru kunci, arca ini merupakan
tempat makan sapi atau lembu yaitu Arca Nandi tersebut.
3. Lumpang
Lumpang yang terletak
di dekat arca nandi ini lebih kecil dan cenderung bulat. Menurut cerita,
lumpang ini menyimbolkan tempat minum Arca Nandi.
4. Batu
yang keenam hanyalah seperti potongan batu yang memiliki motif garis-garis
5. Arca
kelima diperkirakan adalah topi pemilik lembu.
6. Pada
batu keempat ini, masih diragukan bentuknya.
D.
DOKUMENTASI
PENELITIAN
Foto
bersama Bapak Sarnu TR (Juru Kunci Candi Sadon)
Candi Sadon (tampak depan)
Candi Sadon (tampak belakang)
Bangunan yang dahulu berupa
pendopo kecil
Buku sejarah
Candi Sadon
BAB
III
PENUTUP
KESIMPULAN
Candi
Sadon (Candi Reog) merupakan candi hindu yang lebih condong ke peninggalan zaman
Erlangga. Terletak di Dukuh Sadon, Desa Cepoko, Kecamatan
Panekan, Kabupaten Magetan. Candi Sadon tidak berbentuk candi
utuh, tapi sudah berupa reruntuhan candi saja. Terdapat bagian-bagian candi, balok-balok batu
dan benda-benda purbakala seperti Arca Nandi (beserta arca pendukung di
dekatnya), fragmen naga, tantri, lumpang dan lain-lain. Candi Sadon ini menarik
peneliti Drs. Sorcipto dan Suwardi,Ba untuk melakukan pendataan dan
penelitian. Selain itu, peneliti luar negeri juga tertarik untuk
datang melakukan penelitian seperti Dr. Van Enoch dan Hoeperman.
DAFTAR
PUSTAKA
Sutarjono, Candi
Sadon Magetan : Cerita Seri Daerah Magetan, Magetan
Buku Sejarah Singkat Candi Reog – Desa Cepoko
Kecamatan Panekan
http://candi.pnri.go.id/temples/deskripsi-jawa_timur-candi_sadon
























Tidak ada komentar:
Posting Komentar