Blog Post ini dibuat dalam rangka mengikuti kompetisi menulis cerpen "Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan". #SafetyFirst diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Honda Motor dan Nulisbuku.com
INSPIRASI BESAR DARI KERIKIL KECIL
Rasanya
berkelana ke ujung senja menggiring awan – awan berkumpul dan membentuk
singgasana merupakan hal yang sangat mengasyikkan. Bertindak seperti raja dan
melihat lekuk – lekuk bumi dari singgasana awan empuk ini. Memanggil pegasus dari kandangnya hanya dengan lentikkan
jari untuk mengantar berkeliling bumi melihat pesona keindahannya. Bunyi seruling
– seruling emas yang tertiup merdu oleh angin mengantarkan mata semakin berat .
. . semakin berat . . . dan bunyi itu seketika berubah dan tubuh terasa sakit.
Gubraaak . . . alas tidur dari bambu patah dan terlihat Priyo menyangkut
diantara patahan bambu itu. Seorang pemuda yang menyangkut tersebut bernama
Priyo Agung Wicaksono. Sebuah nama yang ditasbihkan dalam dirinya dengan maksud
agar menjadi seorang laki – laki yang memiliki nama besar dan bijaksana dalam
keputusan dan tindakannya. Sayangnya, ibu Priyo tidak sempat melihat proses
anaknya dalam menggapai makna dari namanya tersebut karena beliau telah
meninggal. Kini Priyo tinggal dengan bapaknya, Darma Adji yang berprofesi
sebagai seorang petani. “Loh . . . loh . . . yo, kenapa kamu nak?” tanya Bapak
Priyo. “Ini pak, kelihatannya alas bambu ini sudah waktunya diganti. Sudah
rapuh pak. Tapi yang terpenting sekarang bukan masalah mengganti alas bambunya
pak. Bapak bisa tolong Priyo bangun, masalahnya ini sakit banget pak. Bambunya
beradu sama tulang rusuk Priyo. Aduh pak”, rintih Priyo sambil berusaha sendiri
untuk bangun. “Wealah. . . yo yo”, seru Bapak Priyo seketika sambil beranjak
dari kubangan lumpur sawah. “Makanya kalo siang – siang begini, jangan tidur
lama. Masa, Bapak sudah dapat setengah petak menanam padi, eh kamu malah tidur
pulas. Kamu sudah dapat apa?”, gumam Bapak Priyo seraya membantu Priyo lepas
dari jepitan bambu. “Priyo tadi dapat awan pak, sama seruling. Loh, pegasusnya
sudah pergi ya pak?”. “Pegasusnya di kepalamu ini lo, yo? Anak muda kok
mimpinya aneh – aneh. Mimpi itu, jadi petani sukses atau jadi orang kaya. Nah,
Sekarang sudah jam berapa? Katamu masuk kuliah siang”, kata Bapak Priyo
mengingatkan. “Waduh Pak, sudah jam satu. Padahal Priyo ada presentasi kuliah
hari ini”, Priyo terkejut. “Lha memang jam berapa presentasinya?”. “Setengah
jam lagi pak! Priyo pulang dulu ya pak, siap – siap dulu”, pamit Priyo sambil
berlari. “Priyo! Hati – hati, jangan ngebut ya nak”.
Priyo
bergegas berangkat menuju kampus tanpa memperdulikan penampilannya. Rasa sakit
terjepit bambu tadi seketika hilang begitu saja karena kepanikan Priyo. Rumah
Priyo memang terletak di Desa yang jauh dari tempatnya berkuliah saat ini. Perjalanan
menuju kampus seakan tidak dapat dinikmati Priyo. Pohon – pohon pinggir jalan
yang biasanya bergerak lambat, kini bergerak semakin cepat saat Priyo melaju dengan
motornya. Jalanan desa seperti semakin mengecil dan pengguna jalan lain seperti
sangat mengganggu dirinya. Ditambah dengan Priyo harus lebih sering menengok ke
arah yang berlawanan untuk mendahului mobil dan truk pengangkut sayur dari
desanya. Sungguh, rasa nikmat yang benar – benar hilang.
Lima
belas menit telah berlalu. Priyo telah sampai di jalanan perkotaan. Akan
tetapi, waktu lima belas menit yang tersisa tidak akan cukup untuk manjangkau
kampusnya yang seharusnya butuh waktu setengah jam lagi. Kini Priyo menemukan
permasalahan yang saat ini menjadi sebuah permasalahan yang sangat
mengganggunya. Dominasi warna merah di beberapa lampu lalu lintas membuatnya
terus menghitung dan mencocokkan dengan detik jarum jam tangannya. Pandangan
Priyo juga tidak lagi leluasa dan pikiran yang terus dicerca oleh waktu membuatnya
semakin ingin menambah kecepatan motornya. Tak urung setelah melewati lampu
merah kelima, Priyo tak sabar lagi.
Dilain
cerita . . .
Niko
merupakan anak berusia 10 tahun. Duduk di bangku kelas 4, SDN Bakti Harapan.
Siang itu memang suasana sangat mendukung untuk Niko dan teman – temannya
bermain permainan kegemaran mereka, boi – boian. Boi – boian merupakan
permainan tradisional yang menggunakan batu yang disusun vertical kemudian
dilempar menggunakan bola kecil. “Ko, kamu cari batunya. Aku ambil bola di
rumah Radit”, ujar Ujang, teman Niko. “Siap, jang. Sekalian si Radit ajak main
ya”, suruh Niko kepada Ujang. Akhirnya, Niko, Ujang dan Radit bermain boi –
boian bersama. Tawa terpecah disela – sela permainan mereka. Ekspresi mereka
begitu lepas. Tak ada sedikitpun rasa sedih dan beban di dalamnya. Keringat
mengucur dari pelipis mereka bertiga. Kelelahan kian mendera setelah bermain
beberapa jam. Akan tetapi, rasanya untuk menyudahi permainan ini merupakan hal
yang terus ditunda – tunda. Hingga pada akhirnya mereka keluar dari konteks
permainan dan saling melempar bola. Radit yang tidak kebagian bola, mencoba
mengambil batu kerikil dan secara iseng melemparkannya ke arah jalan raya. Niko
seketika berhenti bergurau dan mengingatkan Radit. “Dit, jangan lempar batu ke
jalan. Bahaya tahu. Ambil sana!”, suruh Niko kepada Radit. “Aduh, lelah nih.
Cuma kerikil ko, bukan batu. Jang, dirumahmu ada air es kan? Minta yuk . . .”,
kata Radit seakan tidak fokus pada perintah Niko dan berjalan pergi. “Ko, aku
balik duluan ya, sama Radit”, pamit Ujang.
Niko
melangkahkan kaki menuju jalan raya untuk mengambil batu kerikil tadi. Dia
menengok ke arah kanan. Tepatnya ke arah perempatan jalan yang ada lampu lalu
lintasnya. Jalanan masih sepi sehingga Niko segera mengambil batu kerikil tadi.
Tak diduganya, ada sepeda motor dari arah kanan melaju dengan cepat mendahului
deretan kendaraan yang masih berbaris rapi di belakang garis putih. Niko segera
beranjak, bersamaan dengan suara decitan antara rem dan juga ban yang bergeser
di aspal jalan. “Dik, kamu kenapa mainan di jalan? Hampir ketabrak sepeda motor
kakak kan”, tegur seorang pemuda yang hampir menabrak Niko. “Bukan mainan, kak.
Tapi ngambil kerikil ini. Berbahaya bagi pengendara motor lain kak. Lagian,
kakak nerobos lampu merah sih”, tegur balik Niko.
Akhirnya
pemuda tersebut mengantarkan Niko ke halaman rumahnya. “Maafin kakak ya dik.
Soalnya kakak buru – buru. O ya, perkenalkan nama kakak Priyo Agung Wicaksono.
Panggil aja kak Priyo. Kamu siapa namanya?”. “Aku Niko kak. Ya sudah, sekarang kakak
lanjutin lagi perjalanannya. Biar gak semakin keburu – buru. Aku gak apa – apa
kok”, ujar Niko. Ternyata pemuda tadi adalah Priyo yang menerobos lampu merah
pada sisa waktu kurang 7 detik. Yang begitu tercengang melihat tindakan Niko
yang peduli akan keselamatan orang lain. Bayangkan saja jika batu kerikil itu
masih di jalan, bisa saja batu tersebut mencelakakan Priyo yang berkendara
dalam kecepatan tinggi. Dalam keadaan masih terheran, Priyo segera menanggapi
omongan Niko. “Iya dik. Makasih ya. Kakak lihat tadi kendaraannya sudah habis
makanya kakak terobos aja lampu merah. Eh, gak tahunya malah kejadian kayak
gini. Hampir aja nabrak kamu. Tapi kakak nanti kesini lagi ya, habis pulang
kuliah”, jelas Priyo. “Oo, gitu ya kak. Boleh kok kak. Aku tunggu ya”, ujar
Niko.
Priyo
segera melanjutkan perjalanannya dengan sisa waktu yang sudah sangat menipis.
Dia pun tidak lagi berambisi menambah kecepatan kendaraannya. Kejadian tadi
hampir saja menggagalkan presentasinya dan sekaligus menambah masalah baru buat
dirinya atau mungkin bahkan keluarganya. “Biar saja presentasiku telat. Yang
penting aku selamat dan tidak menjatuhkan korban di jalan. Hampir saja aku
dapat masalah baru. Untung . . . untung . . .”, gumam Priyo sambil berkendara.
Gumaman Priyo tersebut bergantian dengan pengandaian – pengandian yang ia buat
sendiri yang semakin meracuni pikirannya. Rasa sakit bekas terjepit alas bambu
yang patah tadi seketika muncul kembali. Priyo hanya menyeringai mengangkat
sedikit bibir kanannya. Sambil mengelus – elus dadanya.
Keesokan
harinya Priyo menjadwalkan untuk menemui Niko, akibat janji yang belum
ditepatinya kemarin. Rumput di jalanan sawah masih basah, lumut di batang pohon
belum merasakan hangat sinar mentari. Akan tetapi, Priyo sudah bersiap – siap
untuk menyegerakan membantu Bapaknya di sawah. “Tumben banget yo, kamu kok
sudah datang ke sini. Mau bantu Bapak atau mau membetulkan alas tidurmu ini
yang kemarin rusak”, tanya Bapak Priyo sambil membuang sisa akar jagung di
lumpur. “Mau bantu Bapak lah. Soalnya Priyo ada kepentingan pak, nanti. Jadi,
Priyo sampai jam sepuluh aja ya pak”, pinta Priyo. “Aduh, giliran bantu Bapak
aja, dikasih selang waktu. Ya sudah, tapi syaratnya kamu harus bener – bener
bantunya. Jangan seenaknya kamu aja”, ujar Bapak Priyo.. “siap, pak”.
Punggung
Priyo mulai terasa hangat tetapi semakin lama berangsur panas karena sengat
surya. Untung saja angin yang bertiup semilir, sedikit membantu meringankan
rasa panas tubuhnya. Waktu kian menyiang, para petani lain berduyun – duyun
menuju gubuk mereka masing - masing. Melihat tanda tersebut, Bapak Priyo
mengingatkan akan permintaan Priyo tadi. “Yo, nggak jadi pergi?”. “Iya pak,
sebentar lagi. Nanggung pak, tinggal sedikit”, jawab Priyo. Dirasa sudah siang,
Bapak Priyo mulai beranjak menuju tepi sawah. Melihat pergerakan itu, Priyo
mengakhiri menanam padi di genggamannya dan bergerak cepat menyusul, meskipun
begitu berusaha mengangkat kakinya dari lumpur. “Pak, Priyo lanjutin besuk lagi
ya bantunya. Mau pergi dulu”, pamit Priyo. “Yo, kamu pakai sepeda motor Bapak
saja. Bapak lihat spion sepedamu kok lepas satu. Kenapa?”, ujar Bapak Priyo.
“Sebenarnya kemarin Priyo hampir menabrak anak kecil pak. Gara – gara nggak
sabar nunggu di lampu lalu lintas. Jadinya, ya seperti itu pak, spionnya lepas.
Tapi, anaknya nggak luka kok pak”, jelas Priyo dengan memakan ketela rebus yang
dibawanya tadi. “Hati – hati nak, sekarang kendaraan semakin banyak. Jangan
sampai melakukan hal – hal ceroboh dalam berkendara. Meskipun itu hal yang
kecil. Tapi tidak ada salahnya kita berjaga – jaga. Kepatuhan tidak akan
merugikanmu nak”. “Iya pak. Sebenarnya ini Priyo mau pergi ke tempatnya anak
itu”, terang Priyo. “O gitu. Nunggu apa lagi, segera berangkat sekarang saja yo
”, perintah Bapak Priyo. “Ya sudah pak, kalau begitu Priyo berangkat. Terima
kasih pak sudah mengingatkan. Assalamu’alaikum”, pamit Priyo.
“Wa’alaikumsalam”.
Priyo
beranjak dari gubuk, menuju pancuran air yang terletak di dekat deretan pohon
bambu untuk membersihkan diri. Rasanya antusias Priyo untuk segera pergi
menemui Niko tercermin dari gerakannya membersihkan kaki. Sungguh begitu cepat.
Salah satu alasan mengapa Priyo tidak sabar menemui Niko karena dari Niko lah
dia belajar akan arti menyelamatkan orang lain. Dengan menyingkirkan kerikil
dari jalan raya. Sesuatu yang kurang menjadi perhatian orang dewasa atau
mungkin mereka tahu tapi malas untuk melakukannya. Sungguh luar biasa.
Seperti
biasanya, Niko bermain bersama Ujang dan Radit di halaman rumah. Tawa mereka
begitu keras atau mungkin begitu asyiknya mereka bermain sehingga tidak sadar
ada seseorang yang memanggil satu diantara mereka. “Niko . . . Niko . . . asyik
banget mainnya, sampai – sampai gak sadar kalau kakak panggil”, sapa Priyo.
“Eh, kakak yang kemarin. Namanya siapa kak? Niko lupa”, tanya Niko sambil
menggaruk – garuk kepala. “Kak Priyo, ko . . .”, kata Priyo dengan nada
mengayun. “O iya, kak Priyo. Kemarin sibuk ya kak. Kok nggak jadi kesini?”,
tanya Niko penasaran. “Maaf ya ko, kemarin kakak pulang sore banget. Jadi nggak
kesampaian deh untuk kesini. Tapi, hari ini kakak mau menebusnya. Ngomong –
ngomong ini teman kamu ya?”, tanya Priyo mencoba berkenalan dengan Ujang dan
Radit. “Iya kak. Ini Ujang, yang itu Radit”, kata Niko sambil menunjuk Ujang
dan Radit satu persatu. “Hai Ujang, Radit”, sapa Priyo. “Kakak ini siapanya
Niko? Kok kita baru tahu”, tanya Radit sekaligus mewakili Ujang. “Gara – gara
kerikilmu dit. Makanya aku bisa bertemu kak Priyo”, jawab Niko dengan ekspresi
sinis. “Gara – gara kerikilku?”, Radit kebingungan. “Ooo, jadi penyebab kerikil
itu berada di jalan raya kamu to dit?”, tanya Priyo mencoba menggoda Radit.
“Emang kenapa kak?”, Ujang bertanya cepat. “Kemarin kakak hampir saja menabrak
Niko saat Niko mengambil kerikil itu”, jelas Priyo. “Aduuh . . . maafin aku ya
ko. Maafin aku ya kak. Aku ngaku salah deh. Soalnya kemarin aku haus banget.
Jadi buru – buru ke rumahnya Ujang minta air es”, kata Radit meminta maaf.
“Hahaha . . . nggak apa – apa dit. Kalau nggak ada kerikil itu, kakak juga
nggak bakal ketemu sama kalian”, jelas Priyo sambil tertawa. “Iya kita maafin.
Tapi sebagai gantinya kamu harus ngambilin kita bertiga air es di rumahnya
Ujang, hehehe”, kata Niko memberi persyaratan kepada Radit. “Kalau itu sih
nggak keberatan. Soalnya aku juga haus banget ko. Hahaha . . .”, sahut Radit.
Canda demi canda mengiringi pertemuan mereka.
Dalam ketidaksadaran waktu, mereka terus berbicara dan bercerita. Hingga
akhirnya, Ujang dan Radit meminta pamit dan tersisa Priyo dan Niko. “Ko, mau
kakak ajak ke suatu tempat?”, tanya Priyo. “Emm, kemana sih kak?”, ujar Niko
penasaran. “Ya nanti kamu pasti tahulah. Ini sebagai permohonan maaf kakak
karena kecerobohan kakak berkendara kemarin”, jelas Niko. “Oke kak. Berangkat
sekarang”, kata Niko seraya menarik tangan Priyo. Mereka berdua bergegas untuk
bersiap – siap. Niko tampak begitu bersemangat dan segera pamit ke orang
tuanya. Priyo merasakan sesuatu yang berbeda yaitu sebuah kepuasan yang
menyelimuti hatinya secara bertubi – tubi. Rasa kagumnya kepada Niko tak akan
pernah hilang sampai kapanpun. Entah apa yang membuat Priyo mengagumi Niko
secara berlebihan. Akan tetapi, kejadian singkat kemarin membuat perubahan
sikap dan cara pandang yang Priyo untuk memperdulikan orang lain baik sebagai
pengguna jalan atau dalam aspek kehidupan lainnya.
Priyo
sudah mempersiapkan segala hal untuk ajakannya kali ini. Demi seorang anak
kecil yang luar biasa di matanya. “Ini ko, kakak sudah bawakan helm buat kamu.
Dipakai ya”, ujar Priyo sambil menenteng helm buat Niko. Perjalanan mereka
berdua begitu mengasyikkan, nikmat dan waktu pun tak terasa oleh mereka.
Tibalah mereka berdua di sebuah padang rumput luas yang terbingkai pepohonan
pinus di kanan dan kirinya. “Wah kak Priyo, ini bagus banget. Terima kasih ya
kak sudah membawa Niko kesini”, takjub Niko. “Kak Priyo yang justru berterima
kasih sama kamu. Telah membagikan banyak hal yang luar biasa kepada kak Priyo.
Kamu itu sungguh spesial karena banyak orang di luar sana yang telah dewasa
termasuk kak Priyo, yang mengacuhkan hal kecil seperti kemarin. Bahkan hanya
memikirkan urusan diri – sendiri dan tidak berfikir akibatnya pada orang lain.
Ini cuma sedikit balasan sebagai tanda terima kasih kak Priyo kepada kamu.
Terima kasih Niko”, kata Priyo dengan mata hampir berkaca – kaca. Niko pun
hanya tersenyum, mengangguk dan melanjutkan menikmati keindahan alam yang
tersaji di depan matanya.
Dua
orang yang tampak dari kejauhan dengan bayangan sang surya tengah begitu intim
bercerita dan duduk berdampingan. Priyo dengan inspirator kecilnya. Menyuarakan
sebuah ikrar perubahan di hamparan padang rumput luas. Menekankan kepedulian
terhadap keselamatan orang lain pada hati mereka. Ini bukan hanya sekedar batu
kerikil yang ada di jalan raya. Akan tetapi, ini adalah persoalan pola pikir
dan sikap seseorang dalam memperdulikan orang lain dalam hal ini keselamatan
orang lain. Begitu berartinya nyawa dan bahkan semua orang tahu bahwa hal
tersebut tidak dapat digantikan oleh apapun. Akan tetapi, semua itu akan lenyap
dalam sekejap oleh kecerobohan dan keacuhan. Sungguh, ini adalah sebuah
inspirasi besar dari kerikil kecil.