Kamis, 29 Oktober 2015

INSPIRASI BESAR DARI KERIKIL KECIL



Blog Post ini dibuat dalam rangka mengikuti kompetisi menulis cerpen "Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan". #SafetyFirst diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Honda Motor dan Nulisbuku.com

 
INSPIRASI BESAR DARI KERIKIL KECIL

Rasanya berkelana ke ujung senja menggiring awan – awan berkumpul dan membentuk singgasana merupakan hal yang sangat mengasyikkan. Bertindak seperti raja dan melihat lekuk – lekuk bumi dari singgasana awan empuk ini. Memanggil pegasus dari kandangnya hanya dengan lentikkan jari untuk mengantar berkeliling bumi melihat pesona keindahannya. Bunyi seruling – seruling emas yang tertiup merdu oleh angin mengantarkan mata semakin berat . . . semakin berat . . . dan bunyi itu seketika berubah dan tubuh terasa sakit. Gubraaak . . . alas tidur dari bambu patah dan terlihat Priyo menyangkut diantara patahan bambu itu. Seorang pemuda yang menyangkut tersebut bernama Priyo Agung Wicaksono. Sebuah nama yang ditasbihkan dalam dirinya dengan maksud agar menjadi seorang laki – laki yang memiliki nama besar dan bijaksana dalam keputusan dan tindakannya. Sayangnya, ibu Priyo tidak sempat melihat proses anaknya dalam menggapai makna dari namanya tersebut karena beliau telah meninggal. Kini Priyo tinggal dengan bapaknya, Darma Adji yang berprofesi sebagai seorang petani. “Loh . . . loh . . . yo, kenapa kamu nak?” tanya Bapak Priyo. “Ini pak, kelihatannya alas bambu ini sudah waktunya diganti. Sudah rapuh pak. Tapi yang terpenting sekarang bukan masalah mengganti alas bambunya pak. Bapak bisa tolong Priyo bangun, masalahnya ini sakit banget pak. Bambunya beradu sama tulang rusuk Priyo. Aduh pak”, rintih Priyo sambil berusaha sendiri untuk bangun. “Wealah. . . yo yo”, seru Bapak Priyo seketika sambil beranjak dari kubangan lumpur sawah. “Makanya kalo siang – siang begini, jangan tidur lama. Masa, Bapak sudah dapat setengah petak menanam padi, eh kamu malah tidur pulas. Kamu sudah dapat apa?”, gumam Bapak Priyo seraya membantu Priyo lepas dari jepitan bambu. “Priyo tadi dapat awan pak, sama seruling. Loh, pegasusnya sudah pergi ya pak?”. “Pegasusnya di kepalamu ini lo, yo? Anak muda kok mimpinya aneh – aneh. Mimpi itu, jadi petani sukses atau jadi orang kaya. Nah, Sekarang sudah jam berapa? Katamu masuk kuliah siang”, kata Bapak Priyo mengingatkan. “Waduh Pak, sudah jam satu. Padahal Priyo ada presentasi kuliah hari ini”, Priyo terkejut. “Lha memang jam berapa presentasinya?”. “Setengah jam lagi pak! Priyo pulang dulu ya pak, siap – siap dulu”, pamit Priyo sambil berlari. “Priyo! Hati – hati, jangan ngebut ya nak”.
Priyo bergegas berangkat menuju kampus tanpa memperdulikan penampilannya. Rasa sakit terjepit bambu tadi seketika hilang begitu saja karena kepanikan Priyo. Rumah Priyo memang terletak di Desa yang jauh dari tempatnya berkuliah saat ini. Perjalanan menuju kampus seakan tidak dapat dinikmati Priyo. Pohon – pohon pinggir jalan yang biasanya bergerak lambat, kini bergerak semakin cepat saat Priyo melaju dengan motornya. Jalanan desa seperti semakin mengecil dan pengguna jalan lain seperti sangat mengganggu dirinya. Ditambah dengan Priyo harus lebih sering menengok ke arah yang berlawanan untuk mendahului mobil dan truk pengangkut sayur dari desanya. Sungguh, rasa nikmat yang benar – benar hilang.
Lima belas menit telah berlalu. Priyo telah sampai di jalanan perkotaan. Akan tetapi, waktu lima belas menit yang tersisa tidak akan cukup untuk manjangkau kampusnya yang seharusnya butuh waktu setengah jam lagi. Kini Priyo menemukan permasalahan yang saat ini menjadi sebuah permasalahan yang sangat mengganggunya. Dominasi warna merah di beberapa lampu lalu lintas membuatnya terus menghitung dan mencocokkan dengan detik jarum jam tangannya. Pandangan Priyo juga tidak lagi leluasa dan pikiran yang terus dicerca oleh waktu membuatnya semakin ingin menambah kecepatan motornya. Tak urung setelah melewati lampu merah kelima, Priyo tak sabar lagi.
Dilain cerita . . .
Niko merupakan anak berusia 10 tahun. Duduk di bangku kelas 4, SDN Bakti Harapan. Siang itu memang suasana sangat mendukung untuk Niko dan teman – temannya bermain permainan kegemaran mereka, boi – boian. Boi – boian merupakan permainan tradisional yang menggunakan batu yang disusun vertical kemudian dilempar menggunakan bola kecil. “Ko, kamu cari batunya. Aku ambil bola di rumah Radit”, ujar Ujang, teman Niko. “Siap, jang. Sekalian si Radit ajak main ya”, suruh Niko kepada Ujang. Akhirnya, Niko, Ujang dan Radit bermain boi – boian bersama. Tawa terpecah disela – sela permainan mereka. Ekspresi mereka begitu lepas. Tak ada sedikitpun rasa sedih dan beban di dalamnya. Keringat mengucur dari pelipis mereka bertiga. Kelelahan kian mendera setelah bermain beberapa jam. Akan tetapi, rasanya untuk menyudahi permainan ini merupakan hal yang terus ditunda – tunda. Hingga pada akhirnya mereka keluar dari konteks permainan dan saling melempar bola. Radit yang tidak kebagian bola, mencoba mengambil batu kerikil dan secara iseng melemparkannya ke arah jalan raya. Niko seketika berhenti bergurau dan mengingatkan Radit. “Dit, jangan lempar batu ke jalan. Bahaya tahu. Ambil sana!”, suruh Niko kepada Radit. “Aduh, lelah nih. Cuma kerikil ko, bukan batu. Jang, dirumahmu ada air es kan? Minta yuk . . .”, kata Radit seakan tidak fokus pada perintah Niko dan berjalan pergi. “Ko, aku balik duluan ya, sama Radit”, pamit Ujang.
Niko melangkahkan kaki menuju jalan raya untuk mengambil batu kerikil tadi. Dia menengok ke arah kanan. Tepatnya ke arah perempatan jalan yang ada lampu lalu lintasnya. Jalanan masih sepi sehingga Niko segera mengambil batu kerikil tadi. Tak diduganya, ada sepeda motor dari arah kanan melaju dengan cepat mendahului deretan kendaraan yang masih berbaris rapi di belakang garis putih. Niko segera beranjak, bersamaan dengan suara decitan antara rem dan juga ban yang bergeser di aspal jalan. “Dik, kamu kenapa mainan di jalan? Hampir ketabrak sepeda motor kakak kan”, tegur seorang pemuda yang hampir menabrak Niko. “Bukan mainan, kak. Tapi ngambil kerikil ini. Berbahaya bagi pengendara motor lain kak. Lagian, kakak nerobos lampu merah sih”, tegur balik Niko.
Akhirnya pemuda tersebut mengantarkan Niko ke halaman rumahnya. “Maafin kakak ya dik. Soalnya kakak buru – buru. O ya, perkenalkan nama kakak Priyo Agung Wicaksono. Panggil aja kak Priyo. Kamu siapa namanya?”. “Aku Niko kak. Ya sudah, sekarang kakak lanjutin lagi perjalanannya. Biar gak semakin keburu – buru. Aku gak apa – apa kok”, ujar Niko. Ternyata pemuda tadi adalah Priyo yang menerobos lampu merah pada sisa waktu kurang 7 detik. Yang begitu tercengang melihat tindakan Niko yang peduli akan keselamatan orang lain. Bayangkan saja jika batu kerikil itu masih di jalan, bisa saja batu tersebut mencelakakan Priyo yang berkendara dalam kecepatan tinggi. Dalam keadaan masih terheran, Priyo segera menanggapi omongan Niko. “Iya dik. Makasih ya. Kakak lihat tadi kendaraannya sudah habis makanya kakak terobos aja lampu merah. Eh, gak tahunya malah kejadian kayak gini. Hampir aja nabrak kamu. Tapi kakak nanti kesini lagi ya, habis pulang kuliah”, jelas Priyo. “Oo, gitu ya kak. Boleh kok kak. Aku tunggu ya”, ujar Niko.
Priyo segera melanjutkan perjalanannya dengan sisa waktu yang sudah sangat menipis. Dia pun tidak lagi berambisi menambah kecepatan kendaraannya. Kejadian tadi hampir saja menggagalkan presentasinya dan sekaligus menambah masalah baru buat dirinya atau mungkin bahkan keluarganya. “Biar saja presentasiku telat. Yang penting aku selamat dan tidak menjatuhkan korban di jalan. Hampir saja aku dapat masalah baru. Untung . . . untung . . .”, gumam Priyo sambil berkendara. Gumaman Priyo tersebut bergantian dengan pengandaian – pengandian yang ia buat sendiri yang semakin meracuni pikirannya. Rasa sakit bekas terjepit alas bambu yang patah tadi seketika muncul kembali. Priyo hanya menyeringai mengangkat sedikit bibir kanannya. Sambil mengelus – elus dadanya.
Keesokan harinya Priyo menjadwalkan untuk menemui Niko, akibat janji yang belum ditepatinya kemarin. Rumput di jalanan sawah masih basah, lumut di batang pohon belum merasakan hangat sinar mentari. Akan tetapi, Priyo sudah bersiap – siap untuk menyegerakan membantu Bapaknya di sawah. “Tumben banget yo, kamu kok sudah datang ke sini. Mau bantu Bapak atau mau membetulkan alas tidurmu ini yang kemarin rusak”, tanya Bapak Priyo sambil membuang sisa akar jagung di lumpur. “Mau bantu Bapak lah. Soalnya Priyo ada kepentingan pak, nanti. Jadi, Priyo sampai jam sepuluh aja ya pak”, pinta Priyo. “Aduh, giliran bantu Bapak aja, dikasih selang waktu. Ya sudah, tapi syaratnya kamu harus bener – bener bantunya. Jangan seenaknya kamu aja”, ujar Bapak Priyo.. “siap, pak”.
Punggung Priyo mulai terasa hangat tetapi semakin lama berangsur panas karena sengat surya. Untung saja angin yang bertiup semilir, sedikit membantu meringankan rasa panas tubuhnya. Waktu kian menyiang, para petani lain berduyun – duyun menuju gubuk mereka masing - masing. Melihat tanda tersebut, Bapak Priyo mengingatkan akan permintaan Priyo tadi. “Yo, nggak jadi pergi?”. “Iya pak, sebentar lagi. Nanggung pak, tinggal sedikit”, jawab Priyo. Dirasa sudah siang, Bapak Priyo mulai beranjak menuju tepi sawah. Melihat pergerakan itu, Priyo mengakhiri menanam padi di genggamannya dan bergerak cepat menyusul, meskipun begitu berusaha mengangkat kakinya dari lumpur. “Pak, Priyo lanjutin besuk lagi ya bantunya. Mau pergi dulu”, pamit Priyo. “Yo, kamu pakai sepeda motor Bapak saja. Bapak lihat spion sepedamu kok lepas satu. Kenapa?”, ujar Bapak Priyo. “Sebenarnya kemarin Priyo hampir menabrak anak kecil pak. Gara – gara nggak sabar nunggu di lampu lalu lintas. Jadinya, ya seperti itu pak, spionnya lepas. Tapi, anaknya nggak luka kok pak”, jelas Priyo dengan memakan ketela rebus yang dibawanya tadi. “Hati – hati nak, sekarang kendaraan semakin banyak. Jangan sampai melakukan hal – hal ceroboh dalam berkendara. Meskipun itu hal yang kecil. Tapi tidak ada salahnya kita berjaga – jaga. Kepatuhan tidak akan merugikanmu nak”. “Iya pak. Sebenarnya ini Priyo mau pergi ke tempatnya anak itu”, terang Priyo. “O gitu. Nunggu apa lagi, segera berangkat sekarang saja yo ”, perintah Bapak Priyo. “Ya sudah pak, kalau begitu Priyo berangkat. Terima kasih pak sudah mengingatkan. Assalamu’alaikum”, pamit Priyo. “Wa’alaikumsalam”.
Priyo beranjak dari gubuk, menuju pancuran air yang terletak di dekat deretan pohon bambu untuk membersihkan diri. Rasanya antusias Priyo untuk segera pergi menemui Niko tercermin dari gerakannya membersihkan kaki. Sungguh begitu cepat. Salah satu alasan mengapa Priyo tidak sabar menemui Niko karena dari Niko lah dia belajar akan arti menyelamatkan orang lain. Dengan menyingkirkan kerikil dari jalan raya. Sesuatu yang kurang menjadi perhatian orang dewasa atau mungkin mereka tahu tapi malas untuk melakukannya. Sungguh luar biasa.
Seperti biasanya, Niko bermain bersama Ujang dan Radit di halaman rumah. Tawa mereka begitu keras atau mungkin begitu asyiknya mereka bermain sehingga tidak sadar ada seseorang yang memanggil satu diantara mereka. “Niko . . . Niko . . . asyik banget mainnya, sampai – sampai gak sadar kalau kakak panggil”, sapa Priyo. “Eh, kakak yang kemarin. Namanya siapa kak? Niko lupa”, tanya Niko sambil menggaruk – garuk kepala. “Kak Priyo, ko . . .”, kata Priyo dengan nada mengayun. “O iya, kak Priyo. Kemarin sibuk ya kak. Kok nggak jadi kesini?”, tanya Niko penasaran. “Maaf ya ko, kemarin kakak pulang sore banget. Jadi nggak kesampaian deh untuk kesini. Tapi, hari ini kakak mau menebusnya. Ngomong – ngomong ini teman kamu ya?”, tanya Priyo mencoba berkenalan dengan Ujang dan Radit. “Iya kak. Ini Ujang, yang itu Radit”, kata Niko sambil menunjuk Ujang dan Radit satu persatu. “Hai Ujang, Radit”, sapa Priyo. “Kakak ini siapanya Niko? Kok kita baru tahu”, tanya Radit sekaligus mewakili Ujang. “Gara – gara kerikilmu dit. Makanya aku bisa bertemu kak Priyo”, jawab Niko dengan ekspresi sinis. “Gara – gara kerikilku?”, Radit kebingungan. “Ooo, jadi penyebab kerikil itu berada di jalan raya kamu to dit?”, tanya Priyo mencoba menggoda Radit. “Emang kenapa kak?”, Ujang bertanya cepat. “Kemarin kakak hampir saja menabrak Niko saat Niko mengambil kerikil itu”, jelas Priyo. “Aduuh . . . maafin aku ya ko. Maafin aku ya kak. Aku ngaku salah deh. Soalnya kemarin aku haus banget. Jadi buru – buru ke rumahnya Ujang minta air es”, kata Radit meminta maaf. “Hahaha . . . nggak apa – apa dit. Kalau nggak ada kerikil itu, kakak juga nggak bakal ketemu sama kalian”, jelas Priyo sambil tertawa. “Iya kita maafin. Tapi sebagai gantinya kamu harus ngambilin kita bertiga air es di rumahnya Ujang, hehehe”, kata Niko memberi persyaratan kepada Radit. “Kalau itu sih nggak keberatan. Soalnya aku juga haus banget ko. Hahaha . . .”, sahut Radit.
 Canda demi canda mengiringi pertemuan mereka. Dalam ketidaksadaran waktu, mereka terus berbicara dan bercerita. Hingga akhirnya, Ujang dan Radit meminta pamit dan tersisa Priyo dan Niko. “Ko, mau kakak ajak ke suatu tempat?”, tanya Priyo. “Emm, kemana sih kak?”, ujar Niko penasaran. “Ya nanti kamu pasti tahulah. Ini sebagai permohonan maaf kakak karena kecerobohan kakak berkendara kemarin”, jelas Niko. “Oke kak. Berangkat sekarang”, kata Niko seraya menarik tangan Priyo. Mereka berdua bergegas untuk bersiap – siap. Niko tampak begitu bersemangat dan segera pamit ke orang tuanya. Priyo merasakan sesuatu yang berbeda yaitu sebuah kepuasan yang menyelimuti hatinya secara bertubi – tubi. Rasa kagumnya kepada Niko tak akan pernah hilang sampai kapanpun. Entah apa yang membuat Priyo mengagumi Niko secara berlebihan. Akan tetapi, kejadian singkat kemarin membuat perubahan sikap dan cara pandang yang Priyo untuk memperdulikan orang lain baik sebagai pengguna jalan atau dalam aspek kehidupan lainnya.
Priyo sudah mempersiapkan segala hal untuk ajakannya kali ini. Demi seorang anak kecil yang luar biasa di matanya. “Ini ko, kakak sudah bawakan helm buat kamu. Dipakai ya”, ujar Priyo sambil menenteng helm buat Niko. Perjalanan mereka berdua begitu mengasyikkan, nikmat dan waktu pun tak terasa oleh mereka. Tibalah mereka berdua di sebuah padang rumput luas yang terbingkai pepohonan pinus di kanan dan kirinya. “Wah kak Priyo, ini bagus banget. Terima kasih ya kak sudah membawa Niko kesini”, takjub Niko. “Kak Priyo yang justru berterima kasih sama kamu. Telah membagikan banyak hal yang luar biasa kepada kak Priyo. Kamu itu sungguh spesial karena banyak orang di luar sana yang telah dewasa termasuk kak Priyo, yang mengacuhkan hal kecil seperti kemarin. Bahkan hanya memikirkan urusan diri – sendiri dan tidak berfikir akibatnya pada orang lain. Ini cuma sedikit balasan sebagai tanda terima kasih kak Priyo kepada kamu. Terima kasih Niko”, kata Priyo dengan mata hampir berkaca – kaca. Niko pun hanya tersenyum, mengangguk dan melanjutkan menikmati keindahan alam yang tersaji di depan matanya.
Dua orang yang tampak dari kejauhan dengan bayangan sang surya tengah begitu intim bercerita dan duduk berdampingan. Priyo dengan inspirator kecilnya. Menyuarakan sebuah ikrar perubahan di hamparan padang rumput luas. Menekankan kepedulian terhadap keselamatan orang lain pada hati mereka. Ini bukan hanya sekedar batu kerikil yang ada di jalan raya. Akan tetapi, ini adalah persoalan pola pikir dan sikap seseorang dalam memperdulikan orang lain dalam hal ini keselamatan orang lain. Begitu berartinya nyawa dan bahkan semua orang tahu bahwa hal tersebut tidak dapat digantikan oleh apapun. Akan tetapi, semua itu akan lenyap dalam sekejap oleh kecerobohan dan keacuhan. Sungguh, ini adalah sebuah inspirasi besar dari kerikil kecil.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar