Rabu, 15 November 2017

Sejarah Lobi dan Negosiasi
serta dalam bidang public relation

1. Sejarah Lobi dan Negosiasi
Teknik lobi dan Negosiasi terdiri dari dua kata yaitu lobi dan negosiasi. Keduanya memiliki sejarah masing-masing. Selanjutnya, dije;askan sebagai berikut :

  a. Sejarah lobi
Sejarah lobi memang beragam, namun di Amerika Serikat sejarah lobi berawal dari kronik kenaikan advokasi berbayar umumnya oleh kepentingan khusus yang mencari bantuan di badan pembuat undang-undang seperti Kongres Amerika Serikat. Sementara lobi biasanya dipahami sebagai aktivitas oleh profesional berbayar untuk mencoba mempengaruhi legislator dan eksekutif utama, ini telah ada sejak awal Republik, dan mempengaruhi setiap tingkat pemerintahan dari pemerintah kota setempat ke pemerintah federal di Washington. Pada abad kesembilan belas, lobi sebagian besar dilakukan di tingkat negara bagian, namun di abad ke-20, terjadi peningkatan aktivitas yang ditandai, terutama di tingkat federal dalam tiga puluh tahun terakhir. Sementara lobi umumnya ditandai oleh kontroversi, ada banyak keputusan pengadilan yang melindungi lobi sebagai kebebasan berbicara.


Ketika Konstitusi dibuat oleh Framers seperti James Madison, maksud mereka adalah merancang sebuah sistem pemerintahan di mana kelompok kepentingan yang kuat akan dianggap tidak mampu menundukkan kehendak umum. Madison menganggap faksi-faksi itu berbahaya, karena mereka mengancam akan membawa tirani jika kontrol mereka menjadi terlalu besar. Madison, yang menulis di Federalist Papers, mengemukakan bahwa faksi dapat digagalkan dengan mengharuskan mereka bersaing dengan faksi lain, dan oleh karena itu kekuatan kuat satu faksi dapat ditanggulangi oleh faksi atau faksi lain. Dengan demikian, kemampuan individu, kelompok, dan perusahaan untuk melobi pemerintah dilindungi oleh hak untuk mengajukan petisi dalam Amandemen Pertama.

Selama abad kesembilan belas, umumnya, kebanyakan lobi terjadi di legislatif negara bagian, karena pemerintah federal, sementara memiliki yurisdiksi yang lebih luas, tidak menangani banyak hal yang berkaitan dengan ekonomi, dan hal itu tidak melakukan legislasi sebanyak pemerintah negara bagian. Ketika melobi memang terjadi pada masa itu, seringkali "dipraktekkan secara diam-diam" dengan sedikit atau tidak ada pengungkapan publik. Dengan satu akun, lobi yang lebih intens di pemerintahan federal terjadi pada tahun 1869 dan 1877 selama pemerintahan Presiden Grant menjelang dimulainya Era Gilded. Lobi yang paling berpengaruh menginginkan subsidi kereta api dan tarif wol. Pada saat yang sama di Rekonstruksi Selatan, lobi sangat ketat di dekat legislatif negara bagian, terutama mengenai subsidi kereta api, namun juga terjadi di daerah-daerah yang beragam seperti perjudian. Sebagai contoh, Charles T. Howard dari Louisiana State Lottery Company secara aktif melobi legislator negara bagian dan gubernur Louisiana untuk mendapatkan lisensi menjual tiket lotere.

b. Sejarah negoisasi
Sejak akhir Perang Dunia II, di mana momok perang nuklir mendorong pengembangan metode pengelolaan konflik, perundingan dan mediasi yang lebih "ilmiah" ditemukan kembali menjadi bentuk yang lebih "rasional" dan dapat diterima. Namun dalam prosesnya, sejarah negosiasi, proses yang selalu dan terus menjadi tersangka, mulai diminimalkan atau dikesampingkan sebagai tidak relevan lagi.
Setiap manusia bernegosiasi pada suatu saat dalam hidupnya, pada beberapa hal atau lainnya, beberapa lebih efektif daripada yang lain. Kita telah bertahan dan berkembang sebagai spesies terutama karena kemampuan ini. Dan, dari semua mode pengelolaan konflik, proses negosiasi adalah yang paling fleksibel, efisien, ekonomis dan sangat masuk akal dalam repertoar manusia untuk mengelola isu, perbedaan, dan kontroversi. Pada awal sejarah manusia, perselisihan tersebut sebagian besar terjadi di dalam dan di antara individu, keluarga, suku, dan masyarakat. Namun, terlepas dari keharusan bernegosiasi untuk kelangsungan hidup manusia, aktivitas tersebut tetap mencurigakan di benak kebanyakan orang bahkan --- atau terutama --- dalam abad-abad yang lebih baru, karena masyarakat telah menjadi lebih secara sosial, politis, teknologis, dan secara ekonomi kompleks. dan kebutuhan yang lebih mendalam dari sebelumnya.

Perilaku dan proses negosiasi dimaksudkan untuk menggambarkan konstelasi tindakan dan komunikasi yang melampaui negosiasi tertentu dan mencakup setiap cara ekspresi atau tindakan, baik formal maupun informal, yang berfungsi untuk mengelola, meminimalkan, atau menyelesaikan masalah atau perbedaan yang muncul di antara orang-orang.
Proses Evolusioner Perilaku, ritual, pendekatan, negosiasi, telah berevolusi dalam bentuknya selama berabad-abad, beradaptasi dengan perubahan dan perubahan lingkungan sosial, biologis, politik, budaya, dan ekonomi di sekitarnya. Perilaku tersebut, tidak berbeda dengan setiap manifestasi fisiologi, psikologi, dan bahasa biologi manusia lainnya, tunduk pada prinsip-prinsip dasar Teori Evolusioner. Diperdebatkan, otak manusia itu sendiri, yang telah meningkat dalam ukuran selama berabad-abad, sebagian disebabkan oleh peningkatan penggunaan proses negosiasi. Beberapa antropolog fisik menduga bahwa perubahan tersebut bukanlah fungsi dari kebutuhan akan kapasitas penalaran yang lebih.



2. Teknik Lobi dan Negosiasi dalam Bidang Public Relation

Teknik lobi dan negosiasi dalam bidang public relation berawal dari masalah perusahaan atau organisasi dengan munculnya hambatan, konflik pertentangan, perbedaan pendapat, persaingan organisasi, tuntutan, masyarakat semakin kritis dan lain-lain. Hal ini juga dikarenakan public relation akan terjun ke masyarakat dan mewakili perusahaan untuk upaya dalam memperoleh perizinan dan hal yang terkait dengan pihak luar. Lobi penting untuk mendapatkan kepercayaan dari seluruh mitra bisnis. Lobi dan negosiasi berperan ketika sebuah perusahaan berhubungan dengan pemerintah, asosiasi, kamar dagang, duta besar, atase perdagangan, mitra bisnis, LSM dna lain-lain.
Dalam hal lobi sangat penting karena untuk memperoleh laba, menciptakan hubungan baik dengan berbagai pihak, meyakinkan pihak terkait dan dalam proses tawar menawar. Dalam hal negosiasi sangat penting karena untuk mencapai tujuan bersama dengan sebuah agreement tanpa paksaan.

Sumber :
https://dinarjamaudin07.wordpress.com/2014/01/11/diplomasi-lobby-negoisasi-dalam-public-relations
http://www.mediate.com/articles/NaturalHistory.cfm
https://www.skillsyouneed.com/ips/negotiation.html
http://www.businessdictionary.com/definition/lobbying.html
https://en.m.wikipedia.org/wiki/History_of_lobbying_in_the_United_States
https://www.bloomberg.com/news/articles/2012-06-07/a-brief-history-of-lobbying

Kamis, 29 Oktober 2015

INSPIRASI BESAR DARI KERIKIL KECIL



Blog Post ini dibuat dalam rangka mengikuti kompetisi menulis cerpen "Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan". #SafetyFirst diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Honda Motor dan Nulisbuku.com

 
INSPIRASI BESAR DARI KERIKIL KECIL

Rasanya berkelana ke ujung senja menggiring awan – awan berkumpul dan membentuk singgasana merupakan hal yang sangat mengasyikkan. Bertindak seperti raja dan melihat lekuk – lekuk bumi dari singgasana awan empuk ini. Memanggil pegasus dari kandangnya hanya dengan lentikkan jari untuk mengantar berkeliling bumi melihat pesona keindahannya. Bunyi seruling – seruling emas yang tertiup merdu oleh angin mengantarkan mata semakin berat . . . semakin berat . . . dan bunyi itu seketika berubah dan tubuh terasa sakit. Gubraaak . . . alas tidur dari bambu patah dan terlihat Priyo menyangkut diantara patahan bambu itu. Seorang pemuda yang menyangkut tersebut bernama Priyo Agung Wicaksono. Sebuah nama yang ditasbihkan dalam dirinya dengan maksud agar menjadi seorang laki – laki yang memiliki nama besar dan bijaksana dalam keputusan dan tindakannya. Sayangnya, ibu Priyo tidak sempat melihat proses anaknya dalam menggapai makna dari namanya tersebut karena beliau telah meninggal. Kini Priyo tinggal dengan bapaknya, Darma Adji yang berprofesi sebagai seorang petani. “Loh . . . loh . . . yo, kenapa kamu nak?” tanya Bapak Priyo. “Ini pak, kelihatannya alas bambu ini sudah waktunya diganti. Sudah rapuh pak. Tapi yang terpenting sekarang bukan masalah mengganti alas bambunya pak. Bapak bisa tolong Priyo bangun, masalahnya ini sakit banget pak. Bambunya beradu sama tulang rusuk Priyo. Aduh pak”, rintih Priyo sambil berusaha sendiri untuk bangun. “Wealah. . . yo yo”, seru Bapak Priyo seketika sambil beranjak dari kubangan lumpur sawah. “Makanya kalo siang – siang begini, jangan tidur lama. Masa, Bapak sudah dapat setengah petak menanam padi, eh kamu malah tidur pulas. Kamu sudah dapat apa?”, gumam Bapak Priyo seraya membantu Priyo lepas dari jepitan bambu. “Priyo tadi dapat awan pak, sama seruling. Loh, pegasusnya sudah pergi ya pak?”. “Pegasusnya di kepalamu ini lo, yo? Anak muda kok mimpinya aneh – aneh. Mimpi itu, jadi petani sukses atau jadi orang kaya. Nah, Sekarang sudah jam berapa? Katamu masuk kuliah siang”, kata Bapak Priyo mengingatkan. “Waduh Pak, sudah jam satu. Padahal Priyo ada presentasi kuliah hari ini”, Priyo terkejut. “Lha memang jam berapa presentasinya?”. “Setengah jam lagi pak! Priyo pulang dulu ya pak, siap – siap dulu”, pamit Priyo sambil berlari. “Priyo! Hati – hati, jangan ngebut ya nak”.
Priyo bergegas berangkat menuju kampus tanpa memperdulikan penampilannya. Rasa sakit terjepit bambu tadi seketika hilang begitu saja karena kepanikan Priyo. Rumah Priyo memang terletak di Desa yang jauh dari tempatnya berkuliah saat ini. Perjalanan menuju kampus seakan tidak dapat dinikmati Priyo. Pohon – pohon pinggir jalan yang biasanya bergerak lambat, kini bergerak semakin cepat saat Priyo melaju dengan motornya. Jalanan desa seperti semakin mengecil dan pengguna jalan lain seperti sangat mengganggu dirinya. Ditambah dengan Priyo harus lebih sering menengok ke arah yang berlawanan untuk mendahului mobil dan truk pengangkut sayur dari desanya. Sungguh, rasa nikmat yang benar – benar hilang.
Lima belas menit telah berlalu. Priyo telah sampai di jalanan perkotaan. Akan tetapi, waktu lima belas menit yang tersisa tidak akan cukup untuk manjangkau kampusnya yang seharusnya butuh waktu setengah jam lagi. Kini Priyo menemukan permasalahan yang saat ini menjadi sebuah permasalahan yang sangat mengganggunya. Dominasi warna merah di beberapa lampu lalu lintas membuatnya terus menghitung dan mencocokkan dengan detik jarum jam tangannya. Pandangan Priyo juga tidak lagi leluasa dan pikiran yang terus dicerca oleh waktu membuatnya semakin ingin menambah kecepatan motornya. Tak urung setelah melewati lampu merah kelima, Priyo tak sabar lagi.
Dilain cerita . . .
Niko merupakan anak berusia 10 tahun. Duduk di bangku kelas 4, SDN Bakti Harapan. Siang itu memang suasana sangat mendukung untuk Niko dan teman – temannya bermain permainan kegemaran mereka, boi – boian. Boi – boian merupakan permainan tradisional yang menggunakan batu yang disusun vertical kemudian dilempar menggunakan bola kecil. “Ko, kamu cari batunya. Aku ambil bola di rumah Radit”, ujar Ujang, teman Niko. “Siap, jang. Sekalian si Radit ajak main ya”, suruh Niko kepada Ujang. Akhirnya, Niko, Ujang dan Radit bermain boi – boian bersama. Tawa terpecah disela – sela permainan mereka. Ekspresi mereka begitu lepas. Tak ada sedikitpun rasa sedih dan beban di dalamnya. Keringat mengucur dari pelipis mereka bertiga. Kelelahan kian mendera setelah bermain beberapa jam. Akan tetapi, rasanya untuk menyudahi permainan ini merupakan hal yang terus ditunda – tunda. Hingga pada akhirnya mereka keluar dari konteks permainan dan saling melempar bola. Radit yang tidak kebagian bola, mencoba mengambil batu kerikil dan secara iseng melemparkannya ke arah jalan raya. Niko seketika berhenti bergurau dan mengingatkan Radit. “Dit, jangan lempar batu ke jalan. Bahaya tahu. Ambil sana!”, suruh Niko kepada Radit. “Aduh, lelah nih. Cuma kerikil ko, bukan batu. Jang, dirumahmu ada air es kan? Minta yuk . . .”, kata Radit seakan tidak fokus pada perintah Niko dan berjalan pergi. “Ko, aku balik duluan ya, sama Radit”, pamit Ujang.
Niko melangkahkan kaki menuju jalan raya untuk mengambil batu kerikil tadi. Dia menengok ke arah kanan. Tepatnya ke arah perempatan jalan yang ada lampu lalu lintasnya. Jalanan masih sepi sehingga Niko segera mengambil batu kerikil tadi. Tak diduganya, ada sepeda motor dari arah kanan melaju dengan cepat mendahului deretan kendaraan yang masih berbaris rapi di belakang garis putih. Niko segera beranjak, bersamaan dengan suara decitan antara rem dan juga ban yang bergeser di aspal jalan. “Dik, kamu kenapa mainan di jalan? Hampir ketabrak sepeda motor kakak kan”, tegur seorang pemuda yang hampir menabrak Niko. “Bukan mainan, kak. Tapi ngambil kerikil ini. Berbahaya bagi pengendara motor lain kak. Lagian, kakak nerobos lampu merah sih”, tegur balik Niko.
Akhirnya pemuda tersebut mengantarkan Niko ke halaman rumahnya. “Maafin kakak ya dik. Soalnya kakak buru – buru. O ya, perkenalkan nama kakak Priyo Agung Wicaksono. Panggil aja kak Priyo. Kamu siapa namanya?”. “Aku Niko kak. Ya sudah, sekarang kakak lanjutin lagi perjalanannya. Biar gak semakin keburu – buru. Aku gak apa – apa kok”, ujar Niko. Ternyata pemuda tadi adalah Priyo yang menerobos lampu merah pada sisa waktu kurang 7 detik. Yang begitu tercengang melihat tindakan Niko yang peduli akan keselamatan orang lain. Bayangkan saja jika batu kerikil itu masih di jalan, bisa saja batu tersebut mencelakakan Priyo yang berkendara dalam kecepatan tinggi. Dalam keadaan masih terheran, Priyo segera menanggapi omongan Niko. “Iya dik. Makasih ya. Kakak lihat tadi kendaraannya sudah habis makanya kakak terobos aja lampu merah. Eh, gak tahunya malah kejadian kayak gini. Hampir aja nabrak kamu. Tapi kakak nanti kesini lagi ya, habis pulang kuliah”, jelas Priyo. “Oo, gitu ya kak. Boleh kok kak. Aku tunggu ya”, ujar Niko.
Priyo segera melanjutkan perjalanannya dengan sisa waktu yang sudah sangat menipis. Dia pun tidak lagi berambisi menambah kecepatan kendaraannya. Kejadian tadi hampir saja menggagalkan presentasinya dan sekaligus menambah masalah baru buat dirinya atau mungkin bahkan keluarganya. “Biar saja presentasiku telat. Yang penting aku selamat dan tidak menjatuhkan korban di jalan. Hampir saja aku dapat masalah baru. Untung . . . untung . . .”, gumam Priyo sambil berkendara. Gumaman Priyo tersebut bergantian dengan pengandaian – pengandian yang ia buat sendiri yang semakin meracuni pikirannya. Rasa sakit bekas terjepit alas bambu yang patah tadi seketika muncul kembali. Priyo hanya menyeringai mengangkat sedikit bibir kanannya. Sambil mengelus – elus dadanya.
Keesokan harinya Priyo menjadwalkan untuk menemui Niko, akibat janji yang belum ditepatinya kemarin. Rumput di jalanan sawah masih basah, lumut di batang pohon belum merasakan hangat sinar mentari. Akan tetapi, Priyo sudah bersiap – siap untuk menyegerakan membantu Bapaknya di sawah. “Tumben banget yo, kamu kok sudah datang ke sini. Mau bantu Bapak atau mau membetulkan alas tidurmu ini yang kemarin rusak”, tanya Bapak Priyo sambil membuang sisa akar jagung di lumpur. “Mau bantu Bapak lah. Soalnya Priyo ada kepentingan pak, nanti. Jadi, Priyo sampai jam sepuluh aja ya pak”, pinta Priyo. “Aduh, giliran bantu Bapak aja, dikasih selang waktu. Ya sudah, tapi syaratnya kamu harus bener – bener bantunya. Jangan seenaknya kamu aja”, ujar Bapak Priyo.. “siap, pak”.
Punggung Priyo mulai terasa hangat tetapi semakin lama berangsur panas karena sengat surya. Untung saja angin yang bertiup semilir, sedikit membantu meringankan rasa panas tubuhnya. Waktu kian menyiang, para petani lain berduyun – duyun menuju gubuk mereka masing - masing. Melihat tanda tersebut, Bapak Priyo mengingatkan akan permintaan Priyo tadi. “Yo, nggak jadi pergi?”. “Iya pak, sebentar lagi. Nanggung pak, tinggal sedikit”, jawab Priyo. Dirasa sudah siang, Bapak Priyo mulai beranjak menuju tepi sawah. Melihat pergerakan itu, Priyo mengakhiri menanam padi di genggamannya dan bergerak cepat menyusul, meskipun begitu berusaha mengangkat kakinya dari lumpur. “Pak, Priyo lanjutin besuk lagi ya bantunya. Mau pergi dulu”, pamit Priyo. “Yo, kamu pakai sepeda motor Bapak saja. Bapak lihat spion sepedamu kok lepas satu. Kenapa?”, ujar Bapak Priyo. “Sebenarnya kemarin Priyo hampir menabrak anak kecil pak. Gara – gara nggak sabar nunggu di lampu lalu lintas. Jadinya, ya seperti itu pak, spionnya lepas. Tapi, anaknya nggak luka kok pak”, jelas Priyo dengan memakan ketela rebus yang dibawanya tadi. “Hati – hati nak, sekarang kendaraan semakin banyak. Jangan sampai melakukan hal – hal ceroboh dalam berkendara. Meskipun itu hal yang kecil. Tapi tidak ada salahnya kita berjaga – jaga. Kepatuhan tidak akan merugikanmu nak”. “Iya pak. Sebenarnya ini Priyo mau pergi ke tempatnya anak itu”, terang Priyo. “O gitu. Nunggu apa lagi, segera berangkat sekarang saja yo ”, perintah Bapak Priyo. “Ya sudah pak, kalau begitu Priyo berangkat. Terima kasih pak sudah mengingatkan. Assalamu’alaikum”, pamit Priyo. “Wa’alaikumsalam”.
Priyo beranjak dari gubuk, menuju pancuran air yang terletak di dekat deretan pohon bambu untuk membersihkan diri. Rasanya antusias Priyo untuk segera pergi menemui Niko tercermin dari gerakannya membersihkan kaki. Sungguh begitu cepat. Salah satu alasan mengapa Priyo tidak sabar menemui Niko karena dari Niko lah dia belajar akan arti menyelamatkan orang lain. Dengan menyingkirkan kerikil dari jalan raya. Sesuatu yang kurang menjadi perhatian orang dewasa atau mungkin mereka tahu tapi malas untuk melakukannya. Sungguh luar biasa.
Seperti biasanya, Niko bermain bersama Ujang dan Radit di halaman rumah. Tawa mereka begitu keras atau mungkin begitu asyiknya mereka bermain sehingga tidak sadar ada seseorang yang memanggil satu diantara mereka. “Niko . . . Niko . . . asyik banget mainnya, sampai – sampai gak sadar kalau kakak panggil”, sapa Priyo. “Eh, kakak yang kemarin. Namanya siapa kak? Niko lupa”, tanya Niko sambil menggaruk – garuk kepala. “Kak Priyo, ko . . .”, kata Priyo dengan nada mengayun. “O iya, kak Priyo. Kemarin sibuk ya kak. Kok nggak jadi kesini?”, tanya Niko penasaran. “Maaf ya ko, kemarin kakak pulang sore banget. Jadi nggak kesampaian deh untuk kesini. Tapi, hari ini kakak mau menebusnya. Ngomong – ngomong ini teman kamu ya?”, tanya Priyo mencoba berkenalan dengan Ujang dan Radit. “Iya kak. Ini Ujang, yang itu Radit”, kata Niko sambil menunjuk Ujang dan Radit satu persatu. “Hai Ujang, Radit”, sapa Priyo. “Kakak ini siapanya Niko? Kok kita baru tahu”, tanya Radit sekaligus mewakili Ujang. “Gara – gara kerikilmu dit. Makanya aku bisa bertemu kak Priyo”, jawab Niko dengan ekspresi sinis. “Gara – gara kerikilku?”, Radit kebingungan. “Ooo, jadi penyebab kerikil itu berada di jalan raya kamu to dit?”, tanya Priyo mencoba menggoda Radit. “Emang kenapa kak?”, Ujang bertanya cepat. “Kemarin kakak hampir saja menabrak Niko saat Niko mengambil kerikil itu”, jelas Priyo. “Aduuh . . . maafin aku ya ko. Maafin aku ya kak. Aku ngaku salah deh. Soalnya kemarin aku haus banget. Jadi buru – buru ke rumahnya Ujang minta air es”, kata Radit meminta maaf. “Hahaha . . . nggak apa – apa dit. Kalau nggak ada kerikil itu, kakak juga nggak bakal ketemu sama kalian”, jelas Priyo sambil tertawa. “Iya kita maafin. Tapi sebagai gantinya kamu harus ngambilin kita bertiga air es di rumahnya Ujang, hehehe”, kata Niko memberi persyaratan kepada Radit. “Kalau itu sih nggak keberatan. Soalnya aku juga haus banget ko. Hahaha . . .”, sahut Radit.
 Canda demi canda mengiringi pertemuan mereka. Dalam ketidaksadaran waktu, mereka terus berbicara dan bercerita. Hingga akhirnya, Ujang dan Radit meminta pamit dan tersisa Priyo dan Niko. “Ko, mau kakak ajak ke suatu tempat?”, tanya Priyo. “Emm, kemana sih kak?”, ujar Niko penasaran. “Ya nanti kamu pasti tahulah. Ini sebagai permohonan maaf kakak karena kecerobohan kakak berkendara kemarin”, jelas Niko. “Oke kak. Berangkat sekarang”, kata Niko seraya menarik tangan Priyo. Mereka berdua bergegas untuk bersiap – siap. Niko tampak begitu bersemangat dan segera pamit ke orang tuanya. Priyo merasakan sesuatu yang berbeda yaitu sebuah kepuasan yang menyelimuti hatinya secara bertubi – tubi. Rasa kagumnya kepada Niko tak akan pernah hilang sampai kapanpun. Entah apa yang membuat Priyo mengagumi Niko secara berlebihan. Akan tetapi, kejadian singkat kemarin membuat perubahan sikap dan cara pandang yang Priyo untuk memperdulikan orang lain baik sebagai pengguna jalan atau dalam aspek kehidupan lainnya.
Priyo sudah mempersiapkan segala hal untuk ajakannya kali ini. Demi seorang anak kecil yang luar biasa di matanya. “Ini ko, kakak sudah bawakan helm buat kamu. Dipakai ya”, ujar Priyo sambil menenteng helm buat Niko. Perjalanan mereka berdua begitu mengasyikkan, nikmat dan waktu pun tak terasa oleh mereka. Tibalah mereka berdua di sebuah padang rumput luas yang terbingkai pepohonan pinus di kanan dan kirinya. “Wah kak Priyo, ini bagus banget. Terima kasih ya kak sudah membawa Niko kesini”, takjub Niko. “Kak Priyo yang justru berterima kasih sama kamu. Telah membagikan banyak hal yang luar biasa kepada kak Priyo. Kamu itu sungguh spesial karena banyak orang di luar sana yang telah dewasa termasuk kak Priyo, yang mengacuhkan hal kecil seperti kemarin. Bahkan hanya memikirkan urusan diri – sendiri dan tidak berfikir akibatnya pada orang lain. Ini cuma sedikit balasan sebagai tanda terima kasih kak Priyo kepada kamu. Terima kasih Niko”, kata Priyo dengan mata hampir berkaca – kaca. Niko pun hanya tersenyum, mengangguk dan melanjutkan menikmati keindahan alam yang tersaji di depan matanya.
Dua orang yang tampak dari kejauhan dengan bayangan sang surya tengah begitu intim bercerita dan duduk berdampingan. Priyo dengan inspirator kecilnya. Menyuarakan sebuah ikrar perubahan di hamparan padang rumput luas. Menekankan kepedulian terhadap keselamatan orang lain pada hati mereka. Ini bukan hanya sekedar batu kerikil yang ada di jalan raya. Akan tetapi, ini adalah persoalan pola pikir dan sikap seseorang dalam memperdulikan orang lain dalam hal ini keselamatan orang lain. Begitu berartinya nyawa dan bahkan semua orang tahu bahwa hal tersebut tidak dapat digantikan oleh apapun. Akan tetapi, semua itu akan lenyap dalam sekejap oleh kecerobohan dan keacuhan. Sungguh, ini adalah sebuah inspirasi besar dari kerikil kecil.




Selasa, 30 Juni 2015

Sejarah Candi Sadon dan Benda-Benda Purbakala yang Masih Tersisa di Dalamnya

Selasa, 09 Juni 2015

MAKALAH ANTROPOLOGI "SEJARAH CANDI SADON DAN BENDA- BENDA PURBAKALA YANG MASIH TERSISA DI DALAMNYA"

BAB I
PENDAHULUAN

A.  LATAR BELAKANG
Peninggalan Kebudaayaan yang ada di Indonesia sangat banyak jumlah dan macamnya. Salah satu dari peninggalan tersebut berbentuk candi. Candi pun juga masih dibagi menjadi candi hindu dan candi budha. Pada dasarnya masih banyak jenis-jenis candi lainnya. Akan tetapi, jenis yang paling sering dicantumkan adalah kedua jenis candi tersebut.
Fungsi utama dari candi sendiri mulai berubah seiring dengan perkembangan zaman. Candi yang semula berfungsi sebagai tempat pemujaan atau semua hal yang berhubungan dengan religius, sekarang fungsi tersebut seakan menjadi fungsi kedua setelah fungsi wisata.
Kebanyakan candi-candi yang ditemukan di Indonesia tidak diketahui nama aslinya. Kesepakatan di dunia arkeologi adalah menamai candi itu berdasarkan nama desa tempat ditemukannya candi tersebut. Candi-candi yang sudah diketahui masyarakat sejak dulu, kadang kala juga disertai dengan legenda yang terkait dengannya. Ditambah lagi dengan temuan prasasti atau mungkin disebut dalam naskah kuno yang diduga merujuk kepada candi tersebut. Seperti halnya candi Sadon yang berada di desa Sadon, Magetan.
Candi Sadon atau lebih terkenal dengan candi Reog menjadi obyek penelitian kami dalam penyusunan makalah ini. Guna menyusun makalah ini, penulis telah melakukan penelitian di candi sadon, wawancara dengan juru kunci candi sadon, dan pengambilan gambar bagian-bagian candi. Penyusunan dari makalah ini mengambil sumber dari hasil wawancara, buku asli tentang candi sadon, dan untuk melengkapi informasi dan data kami mengambil dari internet.

B.  RUMUSAN MASALAH
1.      Mengapa dinamakan candi sadon?
2.      Bagaimana sejarah Candi Sadon?
3.      Bagian-bagian apa saja yang ditemukan di candi sadon?

C.  TUJUAN PENELITIAN
1.      Mengetahui asal mula pemberian nama candi sadon.
2.      Mengetahui sejarah tentang Candi Sadon
3.      Meneliti bagian-bagian candi yang masih ada di situs candi sadon


Senin, 16 Maret 2015

THE HISTORICAL ALL ENGLAND 2015 TURNAMENT

Review oleh : Arif Defri Gozaini

Setelah selesainya turnamen German Open GPG 2015, pasukan Indonesia harus mengawali perjuangannya kembali di turnamen tertua yang bersejarah yaitu YONEX All England. Pada All England tahun 2015 ini, Indonesia memboyong sekitar 24 pemain dari pelatnas dan non pelatnas. Sekitar 10 pemain harus mengawali perjuangannya dari babak kualifikasi.

# QUALIFICATION : Debut Para Pasangan Baru
Di tunggal putra, Dionysius Hayom Rumbaka yang menempati unggulan 1 kualifikasi berhasil mengalahkan pemain asal malaysia Mohamad Arif Abdul Latif, 21-15 21-19 selama 0:35 menit. Di final kualifikasi Hayom dapat memenangi laga melawan rekan senegaranya yaitu Simon Santoso dengan skor 21-14 21-17 selama 0:38 menit. Di tunggal putri ada Bellaetrik Manuputy yang harus bermain rubber dengan Kati Tolmoff dari Estonia 21-9 15-21 21-14 dalam 0:42 menit. Sama halnya dengan tunggal putra, Bella harus berhadapan dengan rekan senegaranya di babak final kualifikasi yaitu Millicent Wiranto. Dalam durasi 25 menit Bella berhasil memenangi perang saudara dengan skor 21-11 21-17.

AKSI PEMAIN MUDA INDONESIA DI GERMAN OPEN GRAND PRIX GOLD 2015



Review oleh : Arif Defri Gozaini


# QUALIFICATION: Fran dan Komala lolos 2 nomor
Di hari pertama, beberapa wakil Indonesia harus menjalani laganya dari babak kualifikasi dan terdapat di semua sektor. Di sektor WS, Millicent Wiranto harus kalah lumayan telak dari Yui Hashimoto asal Jepang dengan skor 21-9 21-10 selama 25 menit. Tidak hanya di sektor WS saja yang memiliki satu wakil di kualifikasi. Akan tetapi, hal tersebut juga terjadi di sektor XD. Berbeda nasib dengan Mili, Fran Kurniawan/ Komala Dewi berhasil melangkah ke babak selanjutnya. Di R2-Qual, Fran/ Komala juga kembali berhasil memenangi pertandingan. Mereka menang dengan skor kembar 21-17 21-17 dari ganda perancis Marin Baumann/ Lorraine Baumann. Kemenangan berlanjut dari Fran dan Komala di sektor yang berbeda yaitu di sektor MD dan WD. Masing-masing berpasangan dengan Arya Aldiartama dan Jenna Gozali hingga mengantar mereka ke babak utama.